Rabu, 23 Agustus 2017

Jihad Tholab dan Jihad difa'i


Jihad Tholab [Invansi]:  yaitu mendatangi orang-orang kafir dan menginvansi mereka di negeri-negeri mereka walaupun tidak pernah muncul dari mereka sedikitpun penganiayaan, agar mereka masuk ke dalam Islam seluruhnya atau mereka memberikan jizyah dari tangan mereka langsung sedang mereka dalam keadaan hina, dan ini adalah Nash Al-Kitab, As-Sunnah dan Ijma Ahlul Ilmi. Dan tidak menghalangi dari Jihad ini kecuali bahaya-bahaya yang kuat atau ketidak mampuan dan kelemahan [pasukan Islam-ed]. Dan dalam hal ini di kembalikan kepada orang-orang Alim lagi jujur dan hal ini tidak boleh di cari pada orang yang telah menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah, atau orang-orang yang pecundang dan para penebar isu di muka bumi ini. Dan tujuan terbesar dari Jihad ini adalah meninggikan kalimat Allah, membela Dien-Nya serta menghinakan kekafiran dan para pelakunya.
Jihad DifaI [pertahanan]: yaitu Jihad menghalau musuh dari negeri kaum muslimin, dan ini adalah wajib dengan Ijma, serta tidak ada yang menghalangi darinya kecuali orang jahil atau munafiq. Ia wajib di Palestina, Chechnya, Afghanistan, Filipina dan banyak negeri lainnya. Negara-negara kafir, Amerika dan sekutu-sekutunya telah saling mewasiatkan untuk memerangi Islam dan kaum Muslimin, membunuh pemimpin mereka, menebar kerusakan di antara mereka dan meng-embargo sebagian negeri-negeri mereka.
Presiden Amerika Bush dalam siaran pers yang di laksanakan hari Ahad 28/6/1422 H telah menegaskan bahwa perang ini adalah perang salib [crusade], dan koalisi salib ini membutuhkan pada penghadangan yang paling besar, upaya-upaya berkesinambungan dan terjun bersama-sama, sehingga tidak seorangpun di udzur dengan sikap tidak ikut serta menghadapinya, dan masing-masing sesuai kadar kemampuannya. Baik dengan jiwanya dimana hajat membutuhkan kepadanya, juga dengan harta dan lisannya, Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: Jihadilah orang-orang musyrik itu dengan harta-harta kalian, jiwa-jiwa kalian dan lisan-lisan kalian. Hadist Riwayat Abu dawud [no.2504] dan An-NasaI [3089] dari jalan Hammad dari Humaid dari Anas dari Nabi shalallahu alaihi wa salam.
Dan hal paling minimal yang di kerahkan dalam penghadangan dan perang salib ini adalah doa buat Hizbullah Al-Mukminin dan Ibadullah Al-Mujahidin, bersungguh-sungguh dalam doa itu dan mencari-cari waktu ijabah doa, seperti sepertiga malam terakhir, dalam sujud [ketika sholat-ed], antara Adzan dan Iqomah, Qunut dalam shalat lima waktu, dimana ia mendoakan buat orang-orang yang tertindas dari kau mukminin dan meminta pertolongan kepada Allah atas kafirin dari kalangan yahudi perampas dan kristen yang aniaya.
Abu Hurairah Radiyallahu anhu, berkata: sungguh saya akan mempraktekan shalat Nabi shalallahu alaihi wa salam, maka Abu Hurairah Qunut dalam rakaat terakhir dari shalat Dzuhur, shalat Isya dan shalat Shubuh setelah mengatakan: SamiAllahu liman hamidah terus beliau berdoa buat kaum muslimin dan melaknat kuffar [HR.Al-Bukhari dalam Shahihnya no.797 dan Muslim no.676 dari jalur Yahya Ibnu Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu.
Dan tidak wajib meminta izin kepada penguasa dalam hal qunut di masjid-masjid, karena tidak ada dalil atas hal itu, dan serupa itu andai dilarang dari melaksanakan sunnah rawatib, maka sesungguhnya penguasa itu tidak usah di taati, karena ketaatan hanyalah dalam hal Maruf, sedangkan ini sama sekali tergolong bukan hal maruf. Sungguh umat ini telah di beri bencana dengan penguasa yang menelantarkan hudud dan yang melarang Jihad fi sabilillah serta qunut dalam shalat yang lima waktu, dan [umat di beri bencana] dengan ulama yang melegalkan sikap-sikap hina ini dan mengomentari sikap kepengecutan mereka dari menolong Al-Islam wal Muslimin dengan dalih mendengar dan patuh kepada para penguasa dalam kondisi giat dan malas !!!
Padahal ini adalah penempatan Hadist bukan pada tempatnya, dimana para ulama telah Ijma bahwa orang yang memerintahkan kemungkaran adalah tidak boleh di taati. Dan sesungguhnya kewajiban para ulama adalah berdiri menghadang kebatilan dan gerak langkah kesesatan. Wajib atas mereka mengobarkan ruh Jihad di tengah umat dan memimpinnya dalam meninggikan panji ini serta berlomba-lomba dalam mengitari hal itu.
Mereka adalah pewaris para Nabi dan para pengemban syariat, serta orang yang paling paham akan hukum-hukum Jihad dan keutamaannya, serta apa yang Allah telah siapkan berupa pahala buat Mujahidin. Sekarang adalah waktu pengorbanan, Nushratil Muslimin, dan Jihadul Kafirin dan Salibiyin, inilah jalan yang menghantarkan kepada syahadah, ridha Allah dan Jannah-Nya.
Ini Humair Ibnul Hamman Al-Anshary saat mendengar Nabi shalallahu alaihi wa salam berkata: bangkitlah untuk menggapai surga yang luasnya seluas langit dan bumi  Umair berkata: wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?  Beliau Berkata: Ya,  maka Ia berkata: Bakh, bakh  maka Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berkata: apa yang membawamu untuk mengucapkan Bakk,bakh Ia berkata: tidak wahai Rasulullah kecuali harapan saya untuk ingin menjadi bagian ahli Surga  Rasulullah berkata: sesungguhnya kamu termasuk ahli surga kemudian Ia berkata: andai saya hidup sampai habis makan kurma-kurma ini, maka sesungguhnya ia adalah kehidupan yang panjang. Usai  berkata, maka ia melemparkan kurma-kurma yang ada padanya kemudian ia memerangi mereka sampai terbunuh HR.Muslim dalam Shahihnya [no.1901] dari jalur-jalur dari Hasyim Ibnul Qasim, telah mengabarkan kami Sulaiman Ibnul Mughirah dari Tsabit dari Anas Ibnu Malik
Dan ada dalam shahih Muslim [no.1889] dari Jalan Abdul Aziz Ibnu Hazim dari ayahnya dari Bajah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, bahwa Beliau berkata: sebaik-baiknya kehidupan manusia bagi mereka adalah, seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, ia melesat di atas punggungnya setiap kali ia mendengar suara teriakan atau peperangan maka ia terbang di atasnya, ia mencari tempat-tempat pembunuhan atau kematian. Atau orang yang berada di tengah-tengah kambingnya di atas lereng gunung di lembah dari lembah-lembah ini, ia mendirikan sholat dan menunaikan zakat serta beribadah kepada Rabb-Nya sampai menemui kematian, tidak ada pada manusia kebaikan kecuali itu.
Dan banyak mereka adalah orang-orang yang terjelma pada mereka hakekat ini dan Ubudiyah ini, mereka mencari-cari syahadah saat manusia lain mencari dunia dan kelezatannya
Biarkan kami pergi pada jalan-jalan harga diri kami
Sedang kami memiliki bekal berupa cita-cita yang tinggi
Janji buat kami adalah kemenangan yang nyata,
Maka bila kami mati
Maka di sisi Rabb kami ada tempat tersedia

BIARKANLAH KAMI MATI HINGGA MERAIH KESYAHIDAN
KARENA MATI DI JALAN HIDAYAH ADALAH KELAHIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wasiat Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy

As Syahid (Biidznillah Insya Allah) : Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy ( Salah Seorang Pelaku Peledakan Mubarok 11 September 2001 ...