Rabu, 23 Agustus 2017
Perjuangan islam dan pernikahan
Dalam melestarikan perjuangan islam ,Dalam perkawinanpun anak-anak mujahid diusahakan harus menikah dengan sesama anak mujahid, terutama anak wanita, jangan sampai mencari sendiri calon suaminya ke pihak luar. fatal akibatnya, musuh bisa menyelundup ke bilik perjuangan kita dengan jalan mencuri hati anak-anak kita.
Di atas semua itu upaya memperkuat barisan mesti senantiasa jadi pertimbangan Utama, dari sekedar upaya memenuhi selera belaka. Menikah dengan sesama anak mujahid memiliki nilai tambah, disamping ibadah, juga memberikan perlindungan lebih terhadap aktivitas perjuangan dan keteguhan hati para mujahid sendiri.
Sebab kalau para mujahid laki-laki lebih suka memilih calon isteri dari orang-orang yang tidak dibina, lalu mau dikemanakan muslimah yang dari awal mereka bina??
Pada kesempatan ini, ada baiknya kita simak sebuah surat terbuka dari seorang ukhti muslimah kepada ikhwan ahlul harokah dimanapun berada, tertulis dalam mingguan Al liwa, rabu 25 Desember 1991, Amman yordania:
Merupakan sesuatu yang aneh untuk didengar telinga normal dan dilihat oleh mata, engkau dapati seorang ikhwan yang fanatik beragama,mencari seorang wanita [gadis] yang awam dalam masalah agamanya. Betapa pahit dan sedihnya hati ini bila dia melihat seorang ukhti yang komit dengan agamanya, mulia, santun, berjilbab, tak seorangpun datang untuk meminangnya, tidak ada sebab lain yang membuat mereka tega berbuat demikian, kecuali karena ukhti tersebut baik agamanya dan berjilbab.
Risalah ini kuperuntukan bagi pemuda muslim yang masih memiliki ghairah terhadap dien ini :
Saya seorang ukhti muslimah,(Insya Alloh) commited12 dalam berdakwah, peranku dalam dakwah amat besar, didalam maupun diluar kampus. Namunhingga detik ini, tak seorang ikhwanpun yang mau meminangku. Entahlah.aku merasa jiwaku hampa..aku ingin menjadi seorang ummisebagaimana kebanyakan wanita..
Sesungguhnya kebangkitan Islam bergulir disetiap tempat. Namun, akan mentok bila berhadapan dengan kasus diatas, padahal 14 abad yang lampau, uswah kita telah memberikan terapinya :carilah yang beragama, niscaya kalian akan selamat.
Sesungguhnya para pemuda yang commited pun, apabila ingin melangkahkan kakinya menuju gerbang pernikahan, membuat sarat-sarat yang pelik dan rumit bagi calon isterinya. Bahkan sampai keatas khayal belaka! Terkadang, ia menginginkan calon isterinya itu putih, semampai, rambutnya lebat panjang,matanya lebar dan seterusnya..seolah-olah ia telah mempersiapkan wanita tersebut untuk mengikuti kontes kecantikan {mujahid berlomba beradu isteri cantik dengan kawan-kawan perjuangannya?}subhanaAlloh. Apa bila syarat-syarat tersebut tidak mereka temukan dalam diri para akhwat, sebagian pemuda akhirnya mengawini wanita tak berjilbab. Dengan satu harapan, bahwa satu saat kelak dia akan menyuruhnya berjilbab. Mereka bermain dengan sesuatu yang tak pasti . Berspekulasi! Ujung dari semua karya mereka itu, adalah perceraian. Karna ternyata wanita tersebut tidak betah dengan jilbabnya.
Lalu tinggallah kami para akhwat muslimah, yang senantiasa beriltizam dengan dakwah pada jalan Alloh, ,menyendiri dirumah-rumah, merenungi nasib. Hari demi hari kebingungan makin hebat melanda, hingga akhirnya mulailah satu persatu para akhwat itu berjatuhan, melemah imannya! Laa haula walaa quwwata illa billah, inilah problem yang tengah kuhadapi..!
Problem saudariku lain lagi, di kampus ia termasuk ukhti yang dikaruniai wajah rupawan, semua pria menaruh harapan untuk memperisterinya. Tapiapa mau dikata, keluarganya jadi batu penghalang dari terlaksananya niat para ikhwan. Sekaligus keluarganya merintangi masa depan sang ukhti.
Setiap ada pemuda sholeh datang untuk melamar, keluarganya selalu berkata :Wah ia tidak cocok jadi bagian keluarga kita, tidak sekutu, ini tidak itu tidak..
Akhirnya mereka terhalang untuk melamarnya [adakah mujahid yang sanggup membebaskan ukhti ini dari pasungan selera jahili keluarganya ??]
Persoalannya, bukan cantik tidaknya para akhwat itu, namun semata-mata karna kebodohan kita terhadap dien yang lurus ini. Disamping kungkungan adat yang tak Islami dan embel-embel lainnya
Inilah suatu surat terbuka yang kutujukan kepada siapa saja yang masih memiliki iffah dan dien. Ingatlah selalu sabda nabi :Carilah yang seagama niscaya akan selamat !
Ketika membaca surat itu mungkin kita Berpikir : tidak etis kalau wanita kita sampai menulis surat seperti ini namun jangan salah paham, itu ditulis di puncak penderitaan mereka setelah penantian yang lama sehingga tiba diujung kesabarannya. Hendaknya kita biarkan juga hingga dia terjebak pada batas kesabarannya dan putus asa???
Dalam perjuangan dikenal istilah perkawinan militer, ikatan pernikahannya yang terkait langsung dengan daya bela dan kemampuan perang satu angkatan manakala berhadapan dengan lawan. Perkawinan jenis ini begitu ketat, sebab jangan sanpai ada prajurit yang melemah semangat tempurnya, hanya karena terjatuh di pelukan perempuan. Harus di lihat siapa calon istrinya, bahkan dipanggil ke markas, untuk ditanya kesiapannya, bersediakah menikah dengan seorang personil tempur,yang terkadang dituntut 24 jam siap membela negara ???.
Bila sang wanita bersedia, barulah komandan merestui pernikahannya. Perkawinan inipun dimaksud untuk memberi perlindungan psikologis pada rakyat yang dibela, dan dukungan moril bagi tentara yang senantiasa harus Siap perang.
Sebagai askar-askar Ilahi, tentara-tentara Islam, kitapun mesti mempertimbangkan arah perjalanan keluarga, dengan situasi perjuangan yang kian matang. Sanggupkah terus merekat-erat, atau terburai dan pecah???
Pilihalah istri atau suami yang semakin besar tanggung jawab dan daya tahannya, makala situasi memanas. Bukan Cuma yang penuh birahi dan memberi cinta dimasa tenang, tapi lari tungggang langgang, ketika terompet jihad mulai menggema.
Pejuang lelaki, masih mungkin mengambil istri dari pihak luar [dari kelompok Ahli kitab Quran yang hari ini hanya memposisikan diri sebagai Netral murni Pasif atau sekedar [Simpatisan Pasif] saja]. Tentunya dengan maksud untuk merekrut sumber daya manusia yang berkualitas untuk memperhebat daya juang kita. Bukan sekedar terpikat karena cantiknya belaka ! Itupun mesti melewati penelitian ketat dan dipersiapkan begitu rupa, jangan sampai keliru hingga terambil istri yang calon pengkhianat, yang akhirnya membuat ricuh seluruh kegiatan juang.
= Itizam, melazimi, terbiasa berada di dalamnya [yang dimaksud berada di dalam gerakan dakwah, serta aktif berperan serta.
= Setara, sederajat. Perlu dicatat di sini, bahwa banyak pihak keluarga calon istri, tidak setuju dengan lelaki yang meminang dengan alasan tidan sekufu. Sekufu disini cenderung diartikan masyarakat umum dari sudut status social, tidak melihat persekufuan [kesetaraan] dari sudut aqidah dan gairah jihad.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Wasiat Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy
As Syahid (Biidznillah Insya Allah) : Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy ( Salah Seorang Pelaku Peledakan Mubarok 11 September 2001 ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar