As Syahid (Biidznillah Insya Allah) :
Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy
( Salah Seorang Pelaku Peledakan Mubarok
11 September 2001 M. )
Biografi As Syahid :
Beliau adalah Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy. Dari Tanah Suci dari daerah selatan semenanjung arab, bumi para mujahidin dan syuhada dari daerah Ghomid.
Beliau adalah seorang hafidz dan daI serta mujahid. Didik dirumah yang beragama dan berakhlak. Ayahnya seorang alim dan ibunya seorang daiyah. Hatinya teikat dengan jihad, maka ia berhijrah ke bumi Afghanistan untuk beridad (mempersiapkan diri).
Dia adalah salah seorang diantara sembilan belas pahlawan yang berhasil melakukan serangan di New York dan Washington pada hari selasa 11 September 2001 M.
Sungguh cinta jihad dan rindu akan mati syahid telah merasuk ke dalam hati dan sanubarinya. Mengalir bersama putaran darahnya dan mendarah daging dalam tubuhnya.
Isi Wasiyat :
Aku bersumpah untuk hidup mulia, atau kuhancurkan tulangku dan aku mati.
Kepada ummat Islam ..
Kujual diriku kepada Allah dan Allah membelinya.
Kunyatakan dengan gamblang bersama mereka, darahku yang mengalir supaya sampai ke setiap telinga dan menyentuh hati.
Sebuah panggilan dariku kutujukan kepada :
Para ulama ummat dan para dainya
Kepada para murobbi dan pendidik
Kepada saudara-saudaraku yang terbelenggu di penjara
Dan kepada saudara-saudaraku yang tidak sempat berhijrah dan berjihad karena udzur.
Kepada saudara-saudaraku yang sedang beribath di perbatasan negara Islam.
Kepada saudara-saudaraku muslimin yang tertindas di timur dan di barat.
Kepada pemuda-pemuda Al Aqsho dan pahlawan-pahlawannya.
Kepada pemuda-pemuda Kashmir
Bahkan kutujukan juga kepada setiap luka hirisan di hati setiap muslim.
Kepada mereka semua dan kepada ummat yang sedang di dzalimi. Kuucapkan :
Allah berfirman :
حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَآءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشآءُ وَلاَيُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ
“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa. (QS. Yusuf : 110)
Bagi orang-orang yang berfikir tentang keadaan ummat dengan pembunuhan dan penyiksaan yang terjadi keatasnya, pencabulan harga diri dan pertumpahan darah, pembunuhan keatas mereka yang tidak berdosa. Semua itu terjadi keatas ummat ini di timur dan dibarat bumi.
Lihatlah Palistina ! Meronta sejak setengah kurun dan hingga kini lukanya masih mengalirkan darah.
Dan Kashmir tidaklah terlepas dari nasib yang sama. Penyembah-penyembah sapi itu masih membunuh saudara-saudara kita di sana, dan masih banyak lagi negeri-negeri Islam yang menghadapi nasib yang sama.
Lalu siapakah yang sudi berkorban demi membela saudara-saudara kita ? dan jalan apakah yang bisa ditempuh selain jihad ? dan bagaimanakah jihad dapat di laksanakan untuk menolong mereka ? sedang masih banyak lagi yang menganggapnya hanya fardhu kifayah.
Bagiku .. Ulama telah menerangkan bahwa asal hukum jihad memang fardhu kifayah. Tetapi menjadi fardhu ain pada empat keadaan :
Jika musuh menguasai salah satu negeri muslimin
Jika sudah bertemu dengan bala tentara musuh di medan
Jika diperintah oleh imam (pemimpin) ummat Islam maka menjadi wajib
Jika musuh telah menawan salah seorang muslim.
Jika salah satu keadaan itu terjadi, maka jihad menjadi fardhu ain ke atas ummat ini, hingga kekuatan Islam menjadi cukup atau ummat Islam akan berdosa semua.
Demi Allah ! Aku ingin bertanya kepadamu apa yang tengah terjadi di negeri-negeri ummat Islam ? penjajahan nyata itu di depan mata, tetapi kamu wahai para ulama mendiamkan walaupun penjajahan itu telah mencapai negeri Tanah Suci. Hingga kini kami belum mendengar satupun panggilan jihad darimu.
Saudara .. ulama-ulama kita di tahan musuh, dan setiap hari kita dengar musuh menangkapi saudara-saudara kita, sedang membebaskan mereka adalah kewajiban kita. Dan kamu wahai ulama telah mengatakan hal ini dan menyepakatinya sudah berapa tahun berlalu. Sedang syaikh kita Umar Abdurrohman masih di penjara Amerika.
Itu hanya contoh .. dan masih banyak lagi ulama-ulama kita yang senasib, tetapi kami tidak mandengar panggilan jihad darimu.
Wahai ulama .. wahai ulama .. wahai ulama Kau biarkan ini semua. Jika engkau masih enggan menyatakan kewajiban jihad, lalu siapakah yang akan menyatakannya ? dan kalau bukan sekarang waktunya lalu kapan lagi ?
Demi Allah ! aku tantang kamu semua untuk mencarikan alasan dari empat perkara tersebut bagi ummat ini yang menjadikan jihad kewajiban (fardhu ain). Seperti yang telah disebutkan oleh ulama salaf dan kamu menyepakatinya tetapi tidak kamu laksanakan.
Jika alasanmu adalah karena wujudnya penguasa-penguasa thoghut yang laknat dan mempunyai senjata, maka siroh nabi shollallahu alaihi wasallam telah menjadi contoh terbaik bagi kita, ketika beliau ditekan oleh kaummnya beliau diperintahkan untuk berhijrah untuk menegakkan negara Islam yang kemudian besiap (Idad) untuk jihad. Beliau bukan duduk diam dan bersedekap tangan dan tetap tinggal diam di bawah kekuasaan Quraisy, dan keadaan kita sekarang tidak jauh dari keadaan beliau shollallahu alaihi wasallam.
Di Afghonistan, hari ini hukum syariat dilaksanakan di bawah kepemimpinan Tholiban. Semoga Allah melindungi dan meneguhkan hati mereka. Negeri ini membuka bagi para muhajirin yang ingin beribath, beridad dan berjihad, baik dari golongan ulama atau pemuda mujahidin.
Kami telah bosan hidup di bawah kedzaliman dan kejahatan. Pemerintah-pemerintah yang kononnya menawarkan diri dengan Islam, sedangkan dia sangat jauh dari hakikat Islam, ia murtadz dari agama Allah .. bahkan berani melaksanakan hukum buatan manusia yang dibuat oleh Doktor-Doktor.
Inilah keadaan negara-negara arab yang dahulunya di bawah naungan hukum Islam berkurun-kurun lamanya yang telah dibayar dengan jiwa dan nyawa para shahabat hinga mencapai lautan pasifik dan dia berkata : Demi Allah ! kalau aku tahu di seberang sana ada daratan pasti kan ku datangi dengan kudaku ini. Tetapi kemudian .. kita dipimpin oleh thoghut-thoghut yang murtadz yang menjalankan hukum selain hukum Allah. Mereka ganti hukum Rob kita dengan hukum buatan manusia yang keji dengan tujuan mencari muka di depan si kafir, lalu kemulian apakah yang lebih tinggi dari kerelaan Amerika kepadamu ? lalu kemuliaan apakah yang lebih tinggi dari kerelaan Amerika kepadamu ? dan kamu menjadi gundik yang paling dicintai. Dan pemenang perlombaan ini adalah Fahd bin Abdul Aziz bersama saudaranya Abdullah dan sultan dan Raif dan Salman, semoga Allah memerangi mereka. Mereka masukkan tentara-tentara kristen ke tanah suci dengan alasan politik yang kotor, yang semua itu hasil kerjasama Abu Righol dan saudara-saudaranya. Mereka salahi perintah-perintah nabi kita Shollallahu alaihi wasallam : Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah arab . Mereka jajah negeri kita dan kiblat ummat Islam di siang bolong, mereka rampok hasil bumi Islam dengan bantuan pemerintah murtadz di Jazirah arab, lalu semua itu dilakukan keluarga Saud hanya untuk mendapat kerelaan Amerika. Dan akhirnya mereka dapatkan cita-cita itu, maka datanglah orang-orang Amerika yang jumlahnya antara 40 hingga 45 ribu tentara salib di tambah dengan pembantu-pembantu mereka dari Inggris dan Prancis untuk membentengi tentara-tentara salib itu, bahkan mereka izinkan di bumi suci yang dimuliakan dengan kiblat muslimin.
Lalu hidup yang bagaimana harus kulaui setelah kononnya tentara Amerika membelaku. Kemuliaan yang bagaimana dan harga diri yang bagaimana. Dan bagaimana aku bisa menolong agamaku, dan bagaimana aku bisa mengangkat kemuliaan ummatku, sedangkan hidup di bawah pemerintahan Amerika di Tanah Suci dan keluarga Saud hanyalah boneka yang dipermainkan semuanya. Lalu apa yang harus kami lakukan ? mereka jual tanah air kami dan kiblat umat Islam dan mereka jadikan agama Allah Subhanahu wa Taala sebagai barang jualan. Jika mereka suka .. mereka buang jauh-jauh.
Dan yang sangat disayangkan .. ada ulama-ulama yang masih menganggap mereka sebagai pemimpin muslim yang wajib ditaati. Karena itulah kami berhijrah dan beridad untuk berjihad untuk mengusir tentara kristen itu dari Tanah Suci bahkan dari seluruh tanah air ummat Islam. Dan keturunan keluarga Saud sangat jelas dalam masalah ini, hukum Islam yang mereka laksanakan di Tanah Suci hanya berjalan keatas orang-orang yang lemah saja. Adapun keluarga kerajaan terkecuali dari hukum hakam ini.
Dan persetujuan mereka terhadap UUD kafir yang jelas yang telah difatwakan kekufurannya oleh syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Syaikh rhohimahullah, dan ruang kementrian perniagaan dan ekonomi menjadi saksi, dan mereka perbolehkan riba bahkan mereka buat bangunan terbesar untuk memerangi Allah Subhanahu Wa Taala.
Dan mereka terang-terangan disaksikan oleh dunia sebagaimana yang disebutkan para ulama bahwa antara hal-hal yang membatalkan ke-Islaman seseorang adalah membantu kaum musyrikin untuk menguasai kaum muslimin, dan sesiapapun yang mendalami masalah ini pasti akan menemuinya, lalu dengan melihat semua ini, apakah jihad masih fardhu kifayah ? lalu apkah darah-darah saudar-sudara kita masih murah ? sedangkan ia sangat berharga di sisi Rob kita Subahnahu Wa Taala. Dalam hadits musthofa shollallahu alaihi wasallam beliau bersabda : Walau Kabah runtuh batu demi batunya adalah lebih ringan bagi Allah dari darah muslim yang tertumpah.
Lalu mana penghormatan kepada agama ini ? dan rasa kesatuan ummat ? adakah perasaan ini harus hilang dari 1,5 milyar muslim di dunia ? yang masih tersungkur di kaki thoghut-thoghut dan golongan murtadz. Apakah perasaan itu hilang bersama jatuhnya khilafah Islam ? apakah ketergantungan dengan dunia telah menghapus perasaan itu ? atau dinar dan dirham telah mematikan hati hingga tidak bisa lagi memahami duduk permasalahan ini, hingga oleh para ulama dan pemimpin-pemimpin ummat ? ataukah semua ini adalah bahasa yang menceritakan keadaan ummat kami. Lalu apa jalan keluar semua permasahan ini ? tiada jalan lain kecuali para ulama dan golongan yang dipercaya ummat berpegang dengan al haq serta melaksanakannya dan melaksanakan hukum syariat Robnya kemudian kembali kepada Al Quran dan As Sunnah dan menghidupkan kembali ibadah yang terlupakan, yaitu ibadah Jihad.
Tetapi ummat ini tidak akan dapat melaksanakannya kecuali setelah mereka memahami bahwa dunia dan seisinya tidaklah lebih berharga dari sayap nyamuk. Kalaulah dunia ini berharga pasti Allah tidak memberikan sedikitpun air kepada orang-orang kafir apalagi dunia ini fana.
Perlu anda ketahui bahwa semua kekuatan golongan murtad dan kafir itu tidaklah ada harganya dihadapan kekuatan Allah karena kekuatan itu mutlak milik Allah saja, yang diberikan kepada golongan yang berpegang dengan syariat-Nya. Walau mereka buat berbagai macam jenis meriam atau bom-bom nuklir atau tehnologi mutaakhir yang telah mereka capai sesungguhnya kami mempunyai yang lebih besar dari yang semua itu, yaitu firman Allah Taala :
إِنَّمَآ أَمْرُهُ إِذَآأَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:"Jadilah!" maka terjadilah ia”. (QS. Yasin : 82).
Lalu bagaimana orang-orang yang bersama Allah bisa menjadi lemah ? maka talaklah dunia ini, dan berzuhudlah.
Demi Allah dunia ini hina, ia hanyalah nikmat yang menipu. Kau cintai dunia ini berarti bukan dapat lari dari mati dan pergi berjihad bukan berarti mendekati mati. Yang pasti, mati akan tiba, maka pilihlah mati yang bagaimana mati yang kau ingini. Apakah kamu ingin mati di atas kasurmu seperti matinya onta di kandangnya ? atau kau memilih mati syahid ? mulia setelah kau sahut panggilan-Nya dengan segera dan kau jujur dalam mencari syahid dalam rangka mencapai ridho Allah, yaitu syahid yang menjadi cita-cita setiap muslim yang cintakan agamanya setelah ia maju bergerak memukul musuh-musuh Allah dan membalaskan dendam saudara-saudaranya dan agamanya . lalu mana orang-orang yang bercita-cita tinggi ? yang memikul nyawanya untuk dipersembahkan kepada Rob mereka, maka golongan ini selalu berkata : Bawalah aku ke medan pertempuran itu supaya aku dapat menjual diriku ini demi agama ini.
Dan musuh utama kita kali ini, adalah berhala Hubal zaman ini yang disembah oleh penguasa-penguasa negara-negara arab dan dia menguasai dunia dengan kesombongan dan keangkuhan. Permusuhan Rusia di Chechnya adalah dengan kerelaannya begitu juga serangan tentara kristen di Indonesia dan golongan Hindu di Kashmir adalah dengan kelicikannya dan keberadaan orang yahudi di bumi Palestina dengan semua apa yang mereka lakukan dan penjajahan masjidil Aqsho tentu dengan persetujuan dan taktik licik yang teratur rapi olehnya, dia jajah seluruh negara, walau tidak harus berwujud tentara tetapi dengan penguasa yang mahu mentaatinya. Penjajahan Tanah Suci berlangsung hingga kini dengan alasan serangan Irak ke Kuwait, mereka datang dengan alasan menjaga keamanan maka mereka masuk ke tanah suci dengan bantuan Abu Righol dan saudara-saudaranya. Yang konon mengaku membela kiblat ummat Islam. Tiadak adakah lagi pahlawan pada ummat ini ? apakah ummat ini sudah tidak bisa lagi melahirkan pahlawan yang membela kiblatnya ? buktinya hingga kini belum ada perlawanan secara langsung ke atas berhala Hubal ini (Amerika), maka kami fikirkan untuk membukanya.
Musuh semakin ganas, semakin hari kita dengar kematian saudara-saudara kita.
Demi Allah kami tidak menemukan jalan keluar dari tekanan ini setelah kami tanyakan kepada para ulama yang telah ikut berkecimpung dalam jihad, seperti syaikh Hamud bin Uqla As Syuaibi (rhohimahullah) dan Abdullah bin Jibrin dan syaikh Sulaiman Al Ulwan dan syaikh Hasan Ayyub dan syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mukhtar As Syingkity dan syaikh Usamah bin Muhammad bin Ladin dan syaikh Abu Umar Saif, semoga Allah menjaga mereka dan menjaga ummat ini dengan ilmu mereka. Mereka tunjukkan bahwa jalan keluarnya adalah operasi Istisyhadiyah (Bom Syahid) ke atas titik-titik penting musuh dan pusat pengendalian tentaranya. Yang hasilnya sangat kelihatan setelah dua serangan ke atas kedutaan Amerika di Nairobi dan Darussalam dan setelah peledakan Kapal Distroyer Amerika USS COLE di Yaman, yang ketika itu dalam perjalanan ke lautan Kuwait untuk menyerang saudara-saudara kita di Irak. Ulama-ulama tersebut telah menfatwakan kepada kita bahwa operasi seperti itu dibolehkan oleh syariat, dan itu bukanlah bunuh diri, akan tetapi mencari syahid fie sabiilillah. Karena serangan ke atas musuh tidak akan tercapai kecuali melaui jalan ini dan dalil-dalil mereka sangat banyak, antaranya kisah Ghulam yang menunjukkan si Raja dzalim untuk membunuhnya. Dan para ulama tidak menjulukinya dengan Bunuh Diri.
Dan sebagai penutup wasiatku ini : Aku ulangi panggilanku ini kepada para ulama dan para daI, Aku ulangi panggilanku ini kepada para ulama dan para daI, kepada pemuda sholih yang tidak mempunyai udzur untuk berjihad untuk menolong Diennya. Kepada mereka yang berpaling dari medan-medan jihad, khususnya di tanah suci dan di seluruh dunia pada umumnya.
Aku katakan : Jika kalian senang dengan kehidupan hina ini dan kamu merasa kesulitan untuk berhijrah dan mengangkat senjata, maka tolonglah kami walaupun hanya dengan lisan, dan jangan biarkan kami dan hiaslah kemuliaan ummat ini dengan pena-penamu sepanjang zaman, kalau kamu enggan .. maka kita akan bertemu di hadapan Rob kita nanti di hari yang berat, hingga si anak menjadi tua, tetapi hari itu adalah hari yang adil, maka persiapkanlah untuk hari itu.
Adapun bagiku .. aku tidak rela hidup dalam kehinaan sedikitpun sebagaimana teman-temanku yang masih rela hidup seperti itu, dan diriku menuntut untuk hidup mulia dengan ajaran Robnya, walaupun harus ku bayar dengan hijrah dan hidup jauh dari saudara-saudara.
Lihatlah ! medan-medan itu telah terbuka, dan surga-surga telah dipersiapkan, maka aku berangkat untuk menyerang Amerika yang menjadi musuh Allah, yang pasti akan aku lakukan di kandang mereka sendiri, maka aku akan mati sebagai syahid setelah membunuh musuh-musuh Islam, maka aku keluar mencari tempat latihan untuk membunuh orang-orang Amerika dan musuh-musuh agama demi membela agama ini dan membalaskan darah saudaraku yang tertumpah.
Demi Allah aku tidak akan rela dengan darah saudara-saudara kami yang mengalir di Pelistina yang ditumpahkan oleh tangan-tangan yahudi anak-anak kera itu. Dan aku tidak akan lupa dengan darah-darah saudara kami yang tertumpah di Kashmir, Philipina dan di Burma dan negara-negara muslim lainnya. Maka berangkatlah kami, sedang lisan kami selalu bekata : Kami berangkat menuju mati dengan bangga sebagaimana Singga lapar keluar dari hutannya, kami lalui berbagai kilatan pedang hingga sampai ke pintu cita-cita. Ummatku dan mengetahui bahwa kami sebenarnya melalui berbagai bahaya sambil mendendang ummat, maka kami keluar tinggalkan keluarga kami untuk menyampaikan risalah yang tertulis dengan darah agar sampai ke seluruh dunia, baik kawan atau lawan, yang jauh atau yang dekat, yang mulia atau yang hina, yang jujur atau yang dusta.
Dan semuanya berisi surat :
“ Ya Allah ! Ambillah darah kami demi kerhedhoan-Mu
"Ya Allah ! Jangan kau jadikan jasad-jasad kami di kandang kubur, atau tanah manapun menutupinya, atau lahad yang melindunginya, supaya ia bangun di hari kiamat nanti bersama kejayaan dan surga abadi" .
Dan keberuntungan sebuah surat yang berisi : Zaman perbudakan dan kehinaan telah berakhir, sudah waktunya membunuhi orang-orang Amerika di kandang mereka sendiri bersama kekuatan tentara mereka dan intelejen mereka, sudah waktunya kita tunjukkan kepada dunia bahwa Amerika telah memakai baju yang bukan miliknya ketika ia berniat melawan mujahidin, dan kekuatan itu hanya tipuan nyata di media masa yang dihiasai dengan berbagai macam kalimat-kalimat dusta dan kotor, hingga kelihatan besar dan menakutkan dunia, dan ternyata dia berhasil, tetapi hakikatnya adalah seperti yang anda lihat sendiri kami perangi mereka dari luar kandang mereka dan kini akan kami perangi mereka di dalam kandang mereka sendiri, lalu mana kekuatan tentara itu dan kekuatan tehnologi mereka ? mengapa tidak melindungi mereka ?.
Sebuah surat yang berisi : Kalau Amerika ingin menyelamatkan negaranya dan rakyatnya maka keluarlah dari tanah ummat Islam dan kiblat mereka dan kini akan terbukti bahwa Amerika tidak akan mampu menghadapi golongan mujahidin di seluruh dunia selagi pada ummat ini masih ada pemuda-pemuda yang membelanya. Dan ketahuilah bahwa rahim-rahim ibu-ibu muslimah tidaklah mandul untuk melahirkan lagi pemuda seperti Kholid bin Walid dan Sholahuddien Al Ayyubi, begitu juga syaikh Abdullah Azzam yang telah mengorbankan dirinya demi Islam, semoga Allah merahmati mereka semua.
Sebuah surat yang berisi : Jika Abdullah Azzam telah terbunuh sebagai syahid, maka ketahuilah ummat ini masih mempunyai seribu Abdullah Azzam. Jika Yahya Ayyas telah terbunuh sebagi syahid, maka ummat ini masih mempunyai seribu Yahya Ayyas. Walau masih ada Usamah bin Ladin atau mungkin akan mati terbunuh, maka ummat ini masih mempunyai seribu Usamah bin Ladin. Maka tunggulah wahai Amerika, mereka sudah bosan banyak berbicara tetapi kata-kata mereka itu ingin di garis bawahi dengan darah mereka, dan mereka tuliskan dengan potongan-potongan daging mereka supaya Amerika dan kawan-kawannya memahami bahwa mereka jual ruh mereka (sesuatu yang paling mahal pada dirinya) demi mencapai surga yang berisi kenikmatan abadi.
Dan lisan mereka berkata : Aku bersumpah untuk hidup dengan mulia dengan harga diri atau tulangku hancur ditelan perjuangan.
Sebuah surat yang berisi : Aku telah bosan hidup dalam kehinaan silahkan Amerika meneruskannya untuk menanam takut di hati rakyatnya sendiri dan tentara mereka, dan merasa rugi dan celaka yang dilontarkan mujahidin yang jujur. Kelakuanmu telah melampoi batas kami tidak dapat menahannya lagi.
Hai orang-orang Amerika ! Persiapkanlah peti-peti matimu dan galilah kubur-kuburmu sejak sekarang, kematian telah dekat denganmu dengan izin Allah, dan galilah kubur-kubumu sejak sekarang, persiapkanlah peti-peti matimu kematian telah dekat denganmu dengan izin Allah.
Ya Allah ! Jatuhkanlah negara kafir itu ke-tangan kami, dan bangunkanlah Daulah Islam dengan potongan-potongan daging kami supaya kami dapatkan pahalanya dan balasannya nanti.
Ya Allah ! Jadikanlah kami golongan yang dengan kematian mereka ummat ini akan bangkit.
Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.
Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.
Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.
Ayolah bersegera mencapai surga sebagai tempat tingga yang di dalamnya terdapat kemah-kemah dan sampai jumpa di surga bersama para nabi dan syuhada dan orang-orang yang jujur (shiddiqin).
Dan akhirnya kami ucapkan Al Hamdulillah.
Wassalaamu alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy
Rabu, 23 Agustus 2017
WASIAT SYAIKH ASY SYAHIID ‘ABDULLOH ‘AZZAM KEPADA KAUM MUSLIMIN
SYAIKH ASY SYAHIID ‘ABDULLOH ‘AZZAM
وصية الشيخ الشهيد:
عبد الله بن يوسف عزام
WASIAT SYAIKH ASY SYAHIID ‘ABDULLOH ‘AZZAM
Suatu sore, senin 12 Sya’ban 1406 H. bertepatan dengan 20 April 1986 M. sepulang dari rumah kediaman Syaikh Jalaaluddiin Haqqooniy, kutulis kata-kata ini:
Segala puji bagi Alloh, hanya kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan, memohon ampunan, serta memohon perlindungan dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi peunjuk oleh Alloh, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada seoarang pun juga yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Alloh, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Ya Alloh ! Tiada kemudahan selain yang telah Engkau jadikan mudah, dan jika Engkau berkehendak, niscaya kesedihan akan Engkau jadikan kemudahan.
Sungguh kecintaan kepada jihad benar-benar telah menguasai hidupku, jiwaku, perasaanku, serta hati dan inderaku. Ayat-ayat muhkamat dalam surat at taubah yang menerangkan syariat terakhir mengenai jihad dalam Islam, benar-benar telah memeras kesedihan hatiku untuk mencabik-cabik duka jiwaku, sedangkan aku sadar akan kekuranganku dan kekurangan kaum muslimin dalam melaksanakan kewajiban perang di jalah Alloh ini.
Sesungguhnya ayatus saif (ayat tentang kewajiban mengangkat pedang) telah memansukh (menghapus hukum) lebih dari 120 (atau 140) ayat sebelumnya yang berbicara tentang jihad. Ini benar-benar merupakan bantahan yang telak dan jawaban yang tuntas bagi orang yang mau bermain-main dengan ayat-ayat Alloh yang berkenaan dengan perang di jalan Alloh. Juga buat orang yang begitu berani mentakwilkan ayat-ayat muhkamat atau berani membelokkan arti dhohir yang telah qoth’iy baik maksud maupun keabsahannya. Dan ayatus saif (ayat tentang kewajiban mengangkat pedang) itu adalah:
وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“ ….. dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa “. (QS. At Taubah [9]: 36).
Atau:
فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“ Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . (QS. At Taubah [9]: 5).
Sungguh mencari-cari alasan untuk tidak berangkat berjihad dengan alasan yang bermacam-macam itu akan mengotori jiwa. Karena merelakan diri untuk tidak berperang fii sabilillah merupakan sendau gurau dan main-main bahkan mempermainkan diin (agama) Alloh. Padahal kita diperintahkan agar berpaling dari orang-orang seperti mereka, berdasarkan nash Al Qur’an:
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“ Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikabn agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia “. ( QS. Al An’am : 70).
Sesungguhnya mencari-cari alasan dengan angan-angan tanpa melakukan i’daad (mempersiapkan kekuatan) adalah kondisi jiwa yang kerdil yang tidak mempunyai semangat untuk mencapai puncak gunung.
إِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا
تَعِبَتْ مِنْ مُرَادِهَا اْلأَجْسَامِ
Jika memang jiwa itu besar
Tentu badan itu akan bersusah payahlah untuk memenuhi cita-citanya …
Duduk-duduk berdampingan dengan masjidil harom dan memakmurkannya dengan berbagai amal ibadah tidak mungkin dapat dibandingkan dengan jihad di jalan Alloh. Dalam Shohiih Muslim disebutkan bahwa ayat:
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَآجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللهِ لاَيَسْتَوُونَ عِندَ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {19} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللهِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَآئِزُونَ {20} يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمُُ مُّقِيمٌ {21} خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ {22}
“ Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian serta berjihad di jalan Alloh. Mereka tidak sama di sisi Alloh; dan Alloh tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhoan dan jannah, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalanya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar . (QS. At Taubah [9]: 19-22)
ayat ini turun ketika para shahabat berselisih pendapat tentang amal apakah yang paling utama sesudah iman. Di antara mereka ada yang mengatakan: Meramaikan Masjidil Harom (adalah amalan yang paling utama). Yang lain lagi berkata: Bukan, tapi (amalan yang paling utama setelah iaman itu adalah) memberi minum orang-orang yang beribadah haji . Yang lain lagi berkata, Bukan, tapi (amalan yang paling utama setelah iman itu adalah) jihad di jalan Alloh .
Dengan demikian maka ayat-ayat tersebut adalah merupakan nash yang menetapkan bahwa jihad di jalan Alloh itu lebih besar (derajat dan pahalanya) darin pada meramaikan Masjidil Harom, sebab peristiwa yang menjadi penyebab turunnya ayat ayat-ayat tersebut adalah adanya perselisihan pendapat di antara para shahabat seputar masalah ini. Padahal peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat itu tidak boleh dikhususkan atau ditawilkan, sebab peristiwa yang menjadi penyebab turunnya suatu ayat itu masuk ke dalam apa yang dimaksud oleh ayat tersebut secara qoth’iy.
Dan semoga Alloh merahmati ‘Abdulloh Ibnul Mubaarok. Suatu ketika beliau berkirim surat kepada Al Fudloil bin ‘Iyaadl, yang berbunyi :
يَاعَابِدَ الْحَرَمَيْنِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا
لَعَلِمْتَ أَنَّكَ بِالْعِبَادَةِ تَلْعَبُ
مَنْ كَانَ يَخْضِبُ خَدَّهُ بِدُمُوعِهِ
فَنُحُورُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَّبُ
Wahai orang yang beribadah di dua masjid harom, seandainya engkau melihat kami …
Tentu engkau akan mengerti bahwa engkau dalam beribadah itu hanya bermain-main …
Kalau orang pipinya berlinangan air mata
Maka sesungguhnya leher kami berlumuran dengan darah
Tahukah anda pendapat seorang yang ahli fiqih, ahli hadits dan sekaligus mujahid ini (yaitu Abdulloh bin Mubaarok) tentang orang yang duduk-duduk bersanding dengan Masjidil Harom, beribadah di dalamnya, sedang pada saat yang sama kesucian Islam dilecehkan, darah kaum muslimin ditumpahkan, kehormatan mereka diinjak-injak dan dihinakan serta Diin (agama) Alloh dicabut sampai akar-akarnya! Saya katakan bahwa beliau berpendapat, . itu adalah bermain-main dengan Diin (Agama) Alloh .. .
Benar, membiarkan kaum mulimin disembelih di muka bumi, sedangkan kita hanya membaca Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Roojiuun dan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil Aliyyil Adziim sambil membuka telapak tangan kita dari kejauhan tanpa terdetik di hati kita untuk tampil membela mereka, sungguh ini adalah bermain-main dengan Diin (agama), gelitikan dusta perasaan yang dingin yang senantiasa menipu dirinya sendiri.
كَيْفَ الْقَرَارُ وَكَيْفَ يَهْدَأُ مُسْلِمٌ
وَالْمُسْلِمَاتُ مَعَ الْعَدُوِّ الْمُعْتَدِي
Bagaimana tetap tinggal diam, dan bagaimana seorang muslim bisa tenang …
sedang kaum muslimat bersama musuh yang kejam …
Saya berpendapat sebagaimanayang telah saya tuliskan dalam buku Ad Difaa An Aroodhil Muslimiin Ahammu Furuudhul Ayaan (Terj. Mempertahankan Bumi Kaum Muslimin Adalah Fardhu Ain yang Paling Utama). Dan sebelum saya berpendapat seperti ini Ibnu Taimiyah telah berpendapat seperti ini. Beliau mengatakan: Jika musuh menyerang dan merusak seluruh urusan Diin (agama) dan dunia, maka tidak ada saat itu yang lebih wajib setelah iman selain melawan mereka.”
Saya berpendapat walloohu alam pada hari ini tidak ada bedanya antara orang yang meninggalkan jihad dengan orang yang meninggalkan sholat, puasa dan zakat ?
Saya berpendapat semua penduduk bumi sekarang ini memikul tanggung jawab besar di hadapan Alloh kemudia di hadapan sejarah.
Sungguh saya berpendapat tidak ada alasan yang bisa diterima untuk meninggalkan jihad, baik alasan berdawah, menulis buku, tarbiyah (pendidikan) dan lain sebagainya.
Sungguh saya berpendapat pada hari ini setiap muslim di dunia ini memikul tanggung jawab disebabkan mereka meninggalkan jihad (perang di jalan Alloh). Dan semua orang Islam memikul dosa karena tidak memanggul senjata. Dan semua orang yang menghadap Alloh, selain ulidl dloror (orang-orang cacat, sakit) tanpa membawa senjata ditangannya, maka sesungguhnya ia menghadap Alloh dalam keadaan berdosa karena dia meninggalkan perang. Karena hukum perang sekarang ini adalah fardhu ain bagi setiap muslim di muka bumi --- selain orang-orang yang mempunyai udzur ---, sedangkan orang yang meninggalkan kewajiban itu berdosa karena kewajiban itu definisinya adalah suatu amalan yang mana orang yang melakukannya mendapat pahala dan orang yang meninggalkannya akan dihisab atau berdosa.
Sesungguhnya saya berpendapat walloohu alam sesungguhnya orang yang dimaafkan Alloh dalam meninggalkan jihad adalah orang buta, orang pincang, orang sakit dan orang-orang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak tahu jalan. Maksudnya adalah tidak bisa berpindah ke medan perang dan tidak tahu jalan menuju ke sana.
Maka sekarang ini semua orang berdosa lantaran mereka tidak berperang, baik berperang di Palestina atau Afghanistan atau di belahan bumi manapun yang diinjak dan dinodai oleh orang-orang kafir dengan najisnya.
Dan saya berpendapat pada hari ini tidak ada seorangpun yang berhak untuk dimintai ijin untuk berperang atau berangkan berjihad di jalan Alloh. Seorang anak tidak wajib untuk ijin orang tua, seorang istri tidak wajib ijin kepada suaminya, orang yang berhutang tidak wajib iijin kepada orang yang menghutanginya, seorang murid tidak wajib ijin kepada syaikhnya, dan seorang yang dipimpin tidak wajib ijin kepada pemimpinnya.
Ini adalah ijma seluruh ulama di sepanjang sejarah. Bahwa dalam keadaan seperti ini seorang anak pergi berperang tanpa ijin orang tuanya dan seorang perempuan pergi berperang tanpa ijin suaminya, barangsiapa berusaha menyalahkan permasalahan ini benar-benar ia telah melampaui batas dan berbuat dholim, serta mengikuti hawa nafsu tanpa berdasarkan petunjuk dari Alloh.
Masalah ini sudah cukup gamblang dan tegas yang di dalamnya tiada lagi kekaburan atau kerancuan. Karena itu tidak ada peluang bagi siapa pun untuk membelokkan, menyelewengkan, atau bermain-main dengannya dan mentawilkannya.
Sesungguhnya seorang amiirul muminin itu tidak dimintai ijin untuk berjihad dalam tiga keadaan :
Bila ia menihilkan jihad
Bila ijin itu akan mengakibatkan tujuan jihad itu terabaikan.
Bila sebelumnya telah diketahui bahwa ia melarang.
Saya berpendapat bahwa kaum muslimin pada hari ini bertanggung jawab atas setiap kehormatan yang dinodai di Afghanistan dan sertiap darah yang tertumpah di sana. Sesungguhnya wallohu alam mereka semuanya mempunyai andil dalam menumpahkan darah di Afghanistan lantaran mereka kurang mempunyai kepedulian. Karena mampu untuk mengirim senjata untuk melindungi mereka, atau dokter untuk mengobati mereka, atau harta untuk membeli makanan, atau buldoser untuk menggalikan parit.
Dalam Haasyiyah Ad Dasuuqiy / As Syarhul Kabiir II/111112 dikatakan:
Sesungguhnya orang yang memiliki kelebihan makanan dan melihat seseorang kelaparan (tapi) ia tinggalakan sampai mati, kalau orang yag memiliki makanan itu sebelumnya mengira bahwa orang yang kelaparan itu tidak mati, maka ia harus mambayar diyatnya (denda) dari harta kerabatnya. Namun jika ia sengaja membiarkannya mati maka ada dua riwayat dalam madzhab kita, pertama dia harus membayar diyat dari hartanya sendiri, dan riwayat kedua dia harus diqishos, karena (hakikatnya) dia telah membunuhnya .
Maka, hisab dan siksa macam apakah yang sedang dinanti oleh orang-orang yang memiliki kekayaan dan harta benda, yang mereka hambur-hamburkan untuk memenuhi keinginan dan mereka belanjakan secara sia-sia untuk menuruti hawa nafsu dan kemewahan itu?
WAHAI KAUM MUSLIMIN
Hidup kalian adalah jihad, kemuliaan kalian adalah jihad, serta wujud dan eksistensi kalian terikat erat dengan jihad.
WAHAI PARA JURU DAKWAH !
Tiada nilainya kalian kecuali jika kalian memanggul senjata kalian, untuk membabat para thoghut, orang-orang dan orang-orang dholim. Sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwa Islam ini bisa menang tanpa jihad dan perang, tanpa pertumpahan darah dan serpihan-serpihan daging mereka, sebenarnya mereka itu dalam kekaburan dan tidak memahami tabiat dari Diin (agama) Islam ini.
Sesungguhnya wibawa para juru dakwah, kekuatan dakwah dan kejayaan kaum muslimin itu tidak bakal terwujud tanpa perang. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ قُلُوبِ أَعْدَاءِكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ قَالُوا وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَاهِيَةُ الْقِتَالِ
“ Dan benar-benar Alloh akan mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan melemparkan penyakit wahn ke dalam hati kalian ! para shahabat bertanya : Apakah penyakit wahn itu ya Rosul Alloh ! beliau menjawab : Cinta dunia dan benci dengan kematian . Dalam riwayat lain, …benci dengan peperangan .
Alloh Subhanahu wa Taala berfirman :
فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاللهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَاَشَدُّ تَنْكِيْلاً
“ Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Alloh amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya) . (QS. An Nisa [4]:84).
Sesungguhnya kemusyrikan itu akan merajalela dan berjaya jika tidak ada perang. Alloh Subhanahu wa Taala berfirman :
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ
“ Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh ”. (QS. Al Anfal : 39).
Dan yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah kemusyrikan.
Sesungguhnya jihad itu merupakan jaminan satu-satunya bagi kebaikan di permukaan bumi ini. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ اْلأَرْضُ
“ Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini ”. (QS. Al Baqoroh : 251).
Sesungguhnya jihad juga merupakan jaminan satu-atunya guna memelihara syi’ar-syi’ar dan tempat-tempat peribadahan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدَ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ كَثِيرًا
“ Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh . (QS. Al Haj : 40).
WAHAI PARA JURU DAKWAH ISLAM !
Kejarlah kematian, nisacaya kalian akan dikaruniai kehidupan. Janganlah kalian terpedaya oleh angan-angan, dan janganlah tertipu oleh apapun dalam mentaati Alloh. Janganlah kalian tertipu dengan buku-buku yang kalian baca, dan dengan ibadah-ibadah sunnah yang kalian tekuni. Kesibukan kalian dalam urusan-urusan kecil yang membuai hati jangan sampai melupakan kalian dari masalah-masalah yang besar dan agung,
وتودون أن غير ذات الشوكة تكون لكم...
…dan kalian menginginkan bahwa yang tanpa senjatalah yang akan kalian hadapi…
Janganlah kalian mentaati siapapun dalam urusan jihad. Tidak perlu ijin dari komandan untuk pergi berjihad. Sesungguhnya jihad itu adalah penegak dakwah kalian dan benteng agama kalian serta perisai syariat-syariat kalian.
WAHAI ULAMA ISLAM !
Majulah kalian untuk memimpin generasi yang sedang kembali kepada jalan Robbnya ini. Janganlah mundur dan jangan gandrung serta cinta kepada dunia. Jauhilah hidangan-hidangan dari thoghut, karena hal itu akan menjadikan hati kalian gelap dan mati, serta akan menjadi dinding pemisah bagi kalian dari generasi ini, serta penutup antara hati kalian dan hati mereka.
WAHAI KAUM MUSLIMIN !
Telah lama tidur kalian. Burung-burung pipit telah menjelma menjadi burung-burung Elang di bumi kalian. Alangkah indahnya makna bait-bait puisi ini :
طَالَ الْمَنَامُ عَلَى الْهَوَانِ فَأَيْنَ زُمْرَةِ اْلأُسُودِ
وَاسْتَنْسَرَتْ عُصْبَ الْبُغَاثِِ وَنَحْنُ فِي ذُلِّ الْعَبِيْدِ
قِيْدُ الْعَبِيْدِ مِنَ الْجُنُوعِ وَلَيْسَ مِنْ زَرْدِ الْحَدِيْدِ
فَمَتَى نَثُورُ عَلَى الْقُيُودِ مَتَى نَثُورُ عَلَى الْقُيُودِ
“ Kian panjang tidur terlena dalam kehinaan
dimanakah gerangan barisan singa itu
sementara burung-burung pipit telah menjelma menjadi Elang
sedangkan kita kehinaan bak budak
belenggu perbudakan itu berupa buhul nestapa
bukannya rantai dari besi
lalu, kapan kita berontak belenggu itu?
kapan kita berontak belenggu itu?!
WAHAI KAUM WANITA !
Jauhilah kemewahan, karena kemewahan adalah musuh jihad dan kemewahan itu mengkerdilkan jiwa manusia. Waspaspadalah terhadap keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja. Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan serta jihad. Jadikanlah rumah kalain sebagai kandang singa, bukannya kandang ayam yang mana setelah gemuk dijadikan sembelihan penguasa durhaka. Tanamkanlah dalam jiwa anak-anak kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda dan medan-medan pertempuran. Ikutlah kalian dalam merasakan segala kesulitan kaum muslimin. Usahakan dalam satu minggu sekali minimal untuk merasakan kehidupan kaum muhajirin dan mujahidin, yaitu hanya dengan makan sepotong roti kering dengan lauk yang tidak berlebihan dan beberapa teguk air teh.
WAHAI PARA REMAJA !
Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan musik dan kasur-kasur yang empuk.
ADAPUN ENGKAU WAHAI ISTRIKU !
Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai Ummu Muhammad. Semoga Alloh melimpahkan pahala kepadamu karena jasamu kepadaku dan kepada kaum muslimin, juga karena dukunganmu kepadaku. Eangkau telah lama bersabar bersamaku menempuh jalan ini, dan engkau telah merasakan pahit dan manisnya hidup bersamaku. Dan engkau adalah sebaik-baik orang yang menolongku dalam menempuh perjalanan yang penuh berkah ini, dan dalam berjuang di medan jihad. Engkau telah kutinggalkan di rumah sejak tahun 1969 M, pada saat itu kita baru mempunyai dua anak kecil perempun dan seorang bayi laki-laki. Engkau hidup di sebuah kamar yang terbuat dari tanah liat yang tidak ada dapurnya dan tidak ada perabotnya. Dan kutinggalkan engkau dirumah ketika hamil tua sedangkan anggota keluarga telah bertambah, anak-anak sudah mulai besar, dan semakin banyak kenalan kita dan semakin bertambah pula tamu-tamu kita. Engkau terima semua itu hanya karena Alloh kemudian karena aku. Maka semoga Alloh membalas jasamu terhadap diriku dengan sebaik-baik balasan. Kalau bukan karena Alloh, kemudian karena kesabaranmu atas kepergianku yang sekian lama dari rumah, aku tidak akan mampu memikul beban yang begitu berat itu sendirian.
Benar-banar aku telah mengerti bahwa engkau adalah seorang wanita zaahidah (yang zuhud). Bagimu materi dunia ini tidak ada nilainya dalam hidupmu. Engkaupun tidak pernah mengeluh pada hari-hari yang berat karena sedikitnya uluran tangan pertolongan. Dan engkau pun tidak pernah bermewah-mewah juga tidak membanggakan diri tatkala Alloh membukakan sedikit pintu kenikmatan dunia. Dunia ini tidak pernah tinggal dalam hatimu, padahal seringkali dunia itu ada di tanganmu. Sesungguhnya kehidupan jihad itu adalah kehidupan yang lebih nikmat, juga menahan sabar atas kesempitan lebih indah daripada bergelimang diantara bermacam-macam kenikmatan dan tumpukan kemewahan.
Berpegang teguhlah dengan sifat zuhud, niscaya Alloh akan mencintaimu dan janganlah mencintai apa yang dimiliki orang lain, niscaya orang lain akan mencintaimu.
Al Quran adalah kenikmatan dan hiburan dalam hidup. Bangun sholat malam (tahajjud), puasa sunnah, serta beristighfaar pada waktu-waktu sahur (sepertiga malam terakhir) menjadikan hati lembut dan ibadah menjadi manis. Bergaul dengan orang-orang yang baik, tidak berlebih-lebihan di dunia, menjauhkan diri dari glamour dan orang-orang yang sibuk dengan dunia itu akan menjadikan hati tenang. Dan harapan kita hanya kepada Alloh, mudah-mudahan kita dikumpulkan di Jannah Firdaus, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di dunia.
ADAPUN KALIAN WAHAI ANAK-ANAKKU !
Sungguh kalian hanya mendapatkann sedikit saja dari waktuku, juga hanya sedikit pendidikan dariku. Ya ! aku sibuk dan tidak sempat mengurus kalian. Tapi apakah yang harus aku perbuat, sedangkan bencana yang menimpa kaum muslimin seakan membuat wanita yang menyusui tak ingat akan nasib bayi yang disusuinya. Dan malapetaka yang menyiksa umat Islam begitu dahsyat seolah-olah jambul anak-anak berubah menjadi uban uban karenanya. Demi Alloh, tak kuasa aku hidup bersama kalian sebagaimana induk ayam hidup dalam sangkarnya bersama anak-anaknya. Tak sanggup aku hidup dengan hati dingin sedangkan api bencana membakar hati kaum muslimin. Tak rela aku tinggal besama kalian sepanjang waktu sedangkan derita dan kaum muslimin merobek-robek setiap orang yang memiliki hati nurani atau masih tersisa akalnya. Tidaklah kesatria jika aku hidup di tengah-tengah kalian sambil bergelimang dengan kenikmatan yang sebagian dihamparkan untukku dan sebagian lagi diangkat, diantara tumpukan daging dan beraneka ragam manisan. Demi Alloh, dalam hidupku aku telah membenci kemewahan baik berupa pakaian, makanan, ataupun tempat tinggal. Aku telah berusaha semampuku untuk mengangkat kalian kepada derajat para zaahidiin (ahli zuhud) dan menjauhkan kalian dari gelimangan orang-orang yang hidup dalam kemewahan.
Aku wasiatkan kepada kalian, berpeganglah dengan aqidah kaum salaf, yaitu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dan jauhilah sifat berlebih-lebihan. Aku wasiatkan kepada kalian, untuk membaca dan menghafalkan Al-Quran. Jagalah juga lidah kalian. Begitu juga sholat malam, berpuasa, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan bergabunglah bersama gerakan Islam. Tapi hendaklah kalian ketahui bahwa pemimpin gerakan itu tidak berhak melarang kalian berjihad, atau mengasikkan kalian dalam bidang dakwah hingga melalaikan dari medan-medan kejantaan dan medan-medan perang. Kalian tidak perlu minta ijin kepada seorang pun untuk berjihad di jalan Alloh. Belajarlah bagaimana menembakkan senjata dan mengendarai kendaraan perang. Tapi, menembak itu lebih aku sukai dari pada mengendarai. Aku wasiatkan kepada kalian, wahai anak-anakku agar kalian taat kepada ibumu, menghormati kakak-kakak perempuanmu (Ummu Al Hasan dan Ummu Yahya). Hendaklah kalian menekuni ilmu syariy yang bermanfaat. Hendaklah kalian taat dan hormat kepada kakak laki-laki kalian Muhammad.
Saya nasehatkan kalian untuk saling mencintai di antara kalian, dan berbaktilah kalian kepada kakek dan nenek kalian, hormatilah keduanya. Dan berbaktilah kepada kedua bibimu (Ummu Fayiz dan Ummu Muhammad). Karena beliau berdua itu memiliki jasa besar kepadaku sesudah Alloh. Sambunglah hubungan kekerabatan kita dan berbuat baiklah kepada keluarga dan tunaikanlah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat dengan kita.
ADAPUN KEPADA MAKTAB AL-KHIDMAT
(Pada aslinya tertulis: Saya wasiyatkan agar yang menjadi penanggung jawab setelahku adalah Abu Hudzaifah yang telah menghabiskan waktu mudanya untuk maktab ini. Khususnya dia telah menyumbangkan hartanya untuk para mujahidin. [Pada teks aslinya tidak tertulis Wakilnya adalah] Abu Sayyaaf [Fat-hiy] dan dibantu oleh Abu Hamzah dan Abu Haajir. Namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoret tulisan ini. Silahkan lihat aslinya)
DAN KEPADA IKHWAH SEKALIAN!
Hendaknya kalian menghormati orang-orang yang menjadi pendahulu dalam berjihad ini, dan setiap mujahid mendapat keutamaan dengan lebih dahulunya dia berada dalam medan perang ini. Dan kepada para ikhwah hendaknya kalian menghormati ikhwah lainnya yang lebih dahulu dalam jihad ini, khususnya (pada teks aslinya tertulis: Abu Hudzifah, namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoret dengan penanya. Silahkan lihat aslinya) Usaamah, Abul Hasan Al-Madaniy, Nuurud Diin, Abul Hasan Al-Maqdisiy, Abu Sayyaaf Dan Abu Burhaan. Adapun Abu Maazin sungguh saya mengenal (dalam teks aslinya tertulis; Wallohi [demi Alloh] namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoretnya dengan penanya) dia sebagai orang yang lebih suci dari air yang turun dari langit. Dia ahli puasa, sholat malam dan bersemangat dalam berjihad. Alloh menggiringnya untuk jihad maka dia membantu dengan tidak banyak bicara. (dalam teks aslinya tertulis: meskipun semua orang bersuara keras dan kalian jangan terpedaya dengan mereka namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoretnya dengan penanya. Silahkan lihat aslinya) dan dia adalah salah satu penopang jihad.
Tundukkanlah pandangan kalian dari ketergelinciran-ketergelinciran mereka dan hormatilah kedudukan mereka. Dan jangan kalian lupakan keutamaan Abul Hasan Al-Madaniy dan perannnya dalam membantu jihad. Terimalah nasehat-nasehat Abu Haajir. Dan hendaknya dia yang mengimami sholat kalian karena dia itu lembut dan khusyu (pada teks aslinya tertulis; begitu pula saudara Abul Barro , namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoretnya dengan penanya. Silahkan lihat aslinya)
Dan banyaklah mendoakan (pada teks aslinya tertulis: dan banyaklah mendoakan orang-orang yang menanggung maktab ini dengan harta pribadinya namun tulisan ini ditulis dalam kurung oleh Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam dan kami tidak tahu apakah beliau bermaksud mencoretnya atau membiarkannya. Silahkan lihat teks aslinya. Dan yang benar saudara Usamah menanggung maktab ini pada awal dioperasikannya maktab Al-Khidmat sampai pada tahun 1986 M kemudian setelah itu beliau berhalangan untuk membantu) orang yang menanggung maktab ini dengan menggunakan uang pribadinya yaitu saudara Abu Abdulloh Usaamah bin Muhammad bin Laadin. Saya berdoah semoga Alloh memberkahi keluarga dan hartanya. Dan kami mengharap kepada Alloh untuk memperbanyak orang-orang semacam dia. Demi Alloh saya belum mendapatkan orang yang semacam dia di dunia Islam. Oleh karena itu kami berharap kepada Alloh untuk menjaga agamanya dan hartanya. (dalam teks aslinya tulisan: semoga Alloh memberkati sampai perkataannya yang berbunyi ; tiang perkemahan maktab kalimat ini digarisbawahi dan kami tidak tahu apa maksud syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam. Apakah beliau bermaksud mencoretnya atau tidak. Namun kami menguatkan bahwa beliau tidak bermaksud mencoretnya. Silahkan lihat aslinya) dqn semoga Alloh memberkati kehidupannya. Dan kalian jangan lupa bahwa Abu Hudzaifah telah banyak menanggung proyek-proyek maktab ini dengan uang pribadinya. (dalam teks aslinya kata-kata dengan uang pribadinya ditulis dalam kurung oleh Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam, maka kami kuatkan bahwa beliau tidak bermaksud membuangnya. Silahkan lihat aslinya) maka banyaklah mendoakannya, karena dia merupakan tiang perkemahan maktab.
ADAPUN KEPADA PERHIMPUNAN JIHAD !
Hendaklah kalian banyak memperhatikan Sayyaaf, Hikmatyar, Robbaaniy, Khoolis. Karena kita mengharapkan mereka (dalam teks aslinya tertulis keduanya) akan melanjutkan perjalanan jihad dan memelihara agar tidak menyimpang.
Dan janganlah kalian melupakan komandan di dalam negeri, khususnya Jalaalud Diin, Ahmad Syah Masuud, Ir. Basyiir, Shofiyulloh Afdholiy, Maulawiy Arsalaan, (dalam teks aslinya tertulis: dan perbaikilah hubungan kalian dengan Nash-rulloh Manshuur namun dicoret oleh Syaikh ‘Abdulloh Azzam. Silahkan lihat aslinya) Fariid, Muhammad ‘Alam dan Sir Alam (di Bagman), serta Sayyid Muhammad Haniif (di Logar).
سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
" Mahasuci Engkau ya Alloh, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Engkau, aku mohom ampun dan bertaubat kepada-Mu .
Hari Selasa 13 Syaban 1406 H.
bertepatan dengan 22 April 1986 M.
( ‘Abdulloh bin Yusuf ‘Azzam )
Wasiat Syekh Abu Umar As-Saif Untuk Umat Islam
Wasiat
Syekh Abu Umar As-Saif
Untuk Umat Islam
Khususnya
Disampaikan pada tanggal 29 Ramadhan 1424 H
وصية الشيخ المجاهد:
أبو عمر محمد بن عبد الله السيف
رئيس محكمة التمييز العليا في الشيشان
Segala puji hanya milik Alloh robbul ‘Âlamîn, semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga serta seluruh shahabatnya. Ammâ bad
Sesungguhnya tegak serta menangnya dîn ini adalah dengan adanya kitab pemberi petunjuk dan pedang sebagai pembela. Sebagaimana firman Alloh taâlâ:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hadîd: 25)
Dan inilah jalan yang dilalui para shahabat radhiyallôhu anhum di mana mereka berpegang teguh dengan Kitâbullôh dan Jihad fi Sabîlillâh, akhirnya mereka berhasil meraih kemenangan (kekuasaan/ tamkîn) yang sempurna di muka bumi dikarenakan keimanan mereka yang sempurna serta amal shaleh yang mereka kerjakan. Alloh ta‘âlâ berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (QS. An-Nûr : 55)
Di kala generasi setelah mereka mulai berkurang dalam menegakkan apa yang Alloh wajibkan kepada mereka berupa berpegang teguh kepada Kitabullôh dan Jihad, berkurang pulalah kekuasaan mereka, sebanding dengan berkurangnya sikap berpegang teguh mereka kepada terhadap Kitabullôh dan Jihad Fî Sabîlillâh. Di antara indikasi yang melemahkan kondisi ummat serta menjadikannya cacat dari sifat Thôifah Manshûroh serta menjadikan ilmu dan jihad menjadi bagian yang terpilah adalah : Minimnya penuntut ilmu yang berangkat ke medan Jihad, padahal Rosulullôh Shollallôhu Alaihi wa Sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka akan selalu menang hingga (menjelang) hari kiamat.” (HR. Muslim Kitab Al Iman: 395)
Sehingga, hampir tidak ada panji jihad yang dikibarkan di sebuah negeri, melainkan engkau lihat di sana para mujahidin berlomba menuju bumi jihad, mereka ingin terbunuh dan mencari mati di tempat yang menjadi persangkaan mereka. Namun, engkau tidak akan melihat di antara mereka dari kalangan para penuntut ilmu yang mau menegakkan kewajiban fardhu kifâyah berupa mengajari kaum muslimin di bumi jihad serta mengarahkan mereka dan menyerukan kepada umat akan kondisi mereka. Bahkan, sebagian mereka yang menisbatkan dirinya kepada ilmu tak hentinya melakukan dosa quûd (duduk tidak berangkat berjihad, penerj.) serta tidak mau menghentikan sikap itu. Mereka justru mengendorkan semangat kaum muslimin dari berjihad, menahan mereka dari membela para mujahidin dan menyebarkan berbagai isu melemahkan serta menakut-nakuti mereka akan musuh.
Kondisi umat islam yang mulai bangkit berjihad serta kembali aktualnya kewajiban ini, merupakan sebuah kesempatan bagi para penuntut ilmu yang jujur untuk mulai berhijrah, berjihad fî sabîlillâh, mengarahkan ummat serta berusaha untuk menegakkan din Alloh di muka bumi. Alloh ta’âlâ berfirman,
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak... (QS. An-Nisâ: 100)
Di sini, Alloh memberikan dorongan untuk berhijrah di jalan-Nya dengan menerangkan bahwa seorang Muhâjir akan mendapatkan tempat yang akan menampungnya dan menjadikan musuh-musuh Alloh taâlâ marah, serta mendapatkan kelapangan dalam arti semua bentuk kelapangan. Bisa bermakna kemantaban moril dan adanya solusi; seperti kelapangan dalam hidayah, dakwah dan berjihad di Jalan Alloh serta kelapangan rezeki, kelapangan ketika menghadapi kesedihan dan kesulitan di saat berdekatan dengan musuh-musuh Alloh yang dzalim, kelapangan ketika harus tinggal di bawah kekuasaan mereka serta ketidak mampuan dalam menegakkan kalimat tauhid dan memberlakukan syariat Alloh di bawah kekuasaan mereka. Kelapangan untuk memisahkan diri dari tandingan-tandingan Alloh dan para thoghut dari kalangan mereka yang telah murtad serta dari segala undang-undang positif yang berlaku di negeri tersebut. Kelapangan dari sempitnya kelemahan, kehinaan dan kemiskinan di bawah kungkungan hukum dan kedzaliman para thoghut menuju kepada kehidupan penuh Izzah, kekuatan, jihad serta Tamkîn (kekuasaan) di muka bumi.
Selanjutnya, para ulama adalah pewaris para nabi; sebagaimana mereka adalah orang yang paling tahu akan warisan nubuwwah, sudah seharusnya mereka mengemban risalah tersebut sebagaimana para nabi dahulu juga mengembannya, berjihad dalam rangka membelanya serta sabar menanggung kepedihan yang bakal menimpa mereka ketika menyampaikan risalah tersebut. Mereka juga harus mengarahkan umat untuk berjihad melawan musuh.
Orang berilmu yang jujur memiliki beberapa karakteristik yang membedakan mereka dari ulama jahat. Yang pertama adalah ketika seorang alim mengamalkan ilmunya, kata-katanya sesuai dengan perbuatannya; sebab seorang hamba itu ~sebagaimana dikhabarkan Nabi Shollallôhu Alaihi wa Sallam~ tidak akan bergeser kedua kakinya pada hari kiamat sampai ia ditanya mengenai empat hal : Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang masa mudanya, untuk apa ia usangkan. Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan dia belanjakkan untuk apa. Dan tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya.
Surat Al-Fâtihah berisi petunjuk (hidayah) menuju ilmu sekaligus amal, di mana itulah Shirôthol Mustaqîm (jalan lurus) yang ditempuh oleh para Nabi, para shiddîqîn, syuhada dan sholihin. Bukan jalan yang ditempuh golongan yang dimurkai di mana mereka berilmu namun tidak beramal, seperti kaum yahudi serta ulama kaum muslimin yang fasik. Bukan pula jalan orang-orang sesat di mana mereka beramal tanpa dasar ilmu yang benar, seperti kaum nashrani serta ahli ibadah dari ummat ini yang sesat. Sufyân bin ‘Uyainah rohimahullôh berkata,
مَنْ فَسَدَ مِنْ عُلَمَائِنَا كَانَ فِيْهِ شِبْهٌ مِنَ الْيَهُودِ وَمَنْ فَسَدَ مِنْ عُبَّادِنَا كَانَ فِيْهِ شِبْهٌ مِنَ النَّصَارَى
“ Kalau ada yang rusak dari ulama kita, maka ia mirip dengan orang yahudi. Dan jika ada yang rusak dari ahli ibadah kita, berarti ada kemiripan dengan orang nashrani.”
Dua sifat ini Alloh kumpulkan di dalam kitab-Nya pada firman Alloh ta‘âlâ :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At-taubah : 34)
Jadi, hidayah itu bisa diraih dengan ilmu sekaligus amal serta menyambut nasehat, sebagaimana firman Alloh Tabâroka wa taâlâ:
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا(66) وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا(67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا(68) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا(69)
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisâ : 66-69)
Maka siapa di antara mereka yang merasa telah tergabung dalam dunia ilmu merasa diri menjadi salah satu pengikut Salaful Ummah sementara ia menyembunyikan kebenaran serta duduk dari berjihad dan menghalangi dari jalan Alloh hanya lantaran kehidupan dunia, berarti ia dusta dalam pengakuannya tersebut, bahkan ialah orang yang paling mirip dengan ulama yahudi; kaum yang termurkai, di mana Alloh taâlâ berfirman tentang mereka :
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ(41)وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (42)وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ(43)أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ(44)
“…dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al-Baqoroh : 41-44)
Di dalam Shohîhain, Rasululloh Shollallôhu Alaihi wa Sallam bersabda :
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ اقْتَابَ بَطْنُهُ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلاَنُ مَا لَكَ ؟ أَلَمْ تَكُ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ؟ فَيَقُولُ : بَلَى ، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيْهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ
“Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat, ia dilemparkan ke dalam neraka, lantas terburailah usus perutnya, lalu ia berputar-putar di sana persis seperti keledai yang berputar pada alat penggilingan. Para penduduk nerakapun berkumpul mendekati dia, mereka bertanya, Hai fulan, ada apa dengan dirimu? Bukankah dulu engkau memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah yang munkar? ia menjawab, Benar, aku dulu memerintahkan yang makruf tapi aku tidak mengerjakannya dan aku melarang yang mungkar sementara aku justru mengerjakannya.
Alloh taâlâ menyamakan orang yang mengemban ilmu namun tidak mengamalkannya serta orang yang mengerti ayat-ayat Alloh namun ia justru berlepas diri darinya mirip dengan keledai yang membawa kitab-kitab namun ia tidak bisa mengambil manfaat darinya, juga dengan anjing yang ia selalu menjulurkan lidahnya kepada dunia dan kepada kesesatan yang ia hidup di dalamnya pada semua keadaan, tak ada bedanya; apakah ia diberi nasehat dengan ayat-ayat yang engkau ajarkan kepadanya, atau dengan yang lain, atau tidak diberi nasehat. Ia telah condong dan miring ke bumi secara keseluruhan, ia telah menjadi pengikut syetan dan hawa nafsu yang menjadi titian dan jalan yang ia tempuh. Alloh ta‘âlâ berfirman :
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)
Alloh Tbâroka wa T’âlâ juga berfirman :
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ(175)وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ(176)
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-Arôf : 175-176)
Al-Qurtuby rahimahullôh taâlâ ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan, bahwa permisalan ini bersifat umum bagi siapapun yang diberi Al-Quran namun ia tidak mengamalkannya.
Adapun sifat kedua dari penuntut ilmu adalah menjelaskan ilmu kepada manusia serta berterus terang menyuarakan kebenaran. Alloh taâlâ berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dila`nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. (QS. Al-Baqoroh : 159)
Maka siapa di antara mereka yang menisbatkan diri kepada ilmu yang menyembunyikannya, ia bukanlah ulama yang dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan di dalam air. Tidak pula termasuk dalam nash-nash syari yang memuji para ulama serta menyebutkan pahala mereka. Tapi ia justru termasuk orang-orang yang dilaknat Alloh dan semua makhluk yang bisa melaknat.
Yang menjadikan para penuntut ilmu itu menyembunyikan kebenaran tak lain adalah rasa takut dia kepada para penguasa, siksaan serta media informasi yang mereka miliki. Sebab lain adalah karena ia mencari keridhoan serta kedudukan di sisi para penguasa tersebut, juga ambisi dia untuk mendapatkan dunia beserta perhiasannya. Alloh Tabâroka wa Taâlâ berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُون َ
“ Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Âli Imrôn : 187)
Alloh taâlâ juga berfirman :
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“ Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (QS. Al-Arôf: 169)
Mereka mempelajari ilmu dari para ulama atau di madrasah-madrasah atau di tempat lain, sebagaimana firman Alloh ta’âlâ :
وَدَرَسُوا مَا فِيهِ
(… dan mereka mempelajari apa yang ada di dalamnya …)
Sayangnya, mereka mempelajari ilmu itu sebatas belajar saja. Tidak ada tidak disertai adanya keyakinan yang menancap ataupun iman yang kokoh; mereka tidak menerima ilmu itu seperti halnya para shahabat radhiyallôhu anhum menerimanya di mana merekalah yang telah memikul ilmu serta bersabar dalam menyampaikannya dan berjihad melawan musuh-musuhnya. Imâm Ibnul Qoyyim rahimahullôh berkata, Siapa saja dari ahlul ilmi yang memprioritaskan serta lebih menyukai dunia, pasti akan mengatakan kepada Alloh tanpa dasar kebenaran ketika ia berfatwa, di dalam memberikan hukum dan keputusan dari berita yang ia terima. Sebab hukum Alloh Subhânahû wa Taâlâ banyak sekali yang datang tidak bersesuaian dengan keinginan-keinginan manusia, terutama para pemimpin serta mereka yang memperturutkan syahwat. Mereka ini tidak akan bisa mencapai keinginannya dengan sempurna melainkan dengan menyelisihi kebenaran serta menolak sebagian besarnya. Maka, jika seorang alim dan penguasa mencintai kepemimpinan serta memperturutkan syahwatnya, tentu itu tidak akan dicapai dengan sempurna melainkan dengan menolak hal yang menjadi kebalikannya berupa kebenaran. Lebih lebih ketika ada sesuatu yang masih syubhat, lantas syubhat itu berbenturan dengan syahwatnya atau menyerang hawanafsunya, ia pasti akan menyembunyikan kebenaran serta akan lenyaplah sisi kebenaran itu. Jika kebenaran itu sudah jelas dan tidak lagi tersembunyi dan samar, ia akan memberanikan diri untuk menyelisihinya seraya mengatakan, Masih ada jalan keluar untuk bertaubat bagiku.
Mengenai orang seperti mereka serta yang semisal, Alloh taâlâ berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya.. ” (QS. Maryam : 59)
Alloh ta‘âlâ juga berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurot, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata:"Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. (Al Arof: 169)
Di sini, Alloh subhânahû taâlâ memberitahukan bahwa mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini padahal mereka tahu keharamannya sembari mengatakan, Kami akan diampuni. Jika disodorkan kepada mereka harta benda dunia yang lain, mereka akan kembali mengambilnya. Jadi, mereka terus menerus melakukan hal itu. Selesai perkataan beliau.
Makanya, ilmu bukan hanya dalam menghafal matan-matan serta dengan studi berbagai disiplin ilmu, tetapi inti permasalahan supaya ilmu tersebut bermanfaat adalah kesucian serta ketakwaan dari wadah yang dijadikan tempat untuk menerima ilmu (yaitu hati, penerj.). Jika hati itu suci, ilmu akan bermanfaat dengan izin Alloh, kaum musliminpun akan mengambil manfaat dari ilmu ini. Lain halnya ketika hati yang meneriman ilmu itu adalah hati munafik, atau hati yang sedang sakit, maka pemiliknya pasti akan menyembunyikan kebenaran serta membuat-buat kedustaan atas nama Alloh dan memalingkan dari jalan-Nya. Ia akan menjadikan fatwa dan perkataannya sebagai tutup syari bagi pemerintah yang berfungsi untuk membenarkan kejahatannya terhadap hak islam dan kaum muslimin.
Adapun sifat ketiga seorang penuntut ilmu adalah takwa dan takut kepada Alloh ta’âlâ. Alloh tabâroka wa ta‘âlâ berfirman:
أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”. (Az-Zumar : 9) Alloh Ta’âlâ juga berfirman :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama...” (QS. Az-Zumar : 28)
Di antara indikasi seorang alim benar-benar takut kepada Alloh ta’âlâ adalah ia berterus terang dalam menyampaikan kebenaran serta menerangkan ilmu kepada manusia dan memberikan nasehat kepada umat, ia tidak takut celaan orang-orang yang mencela dari kalangan orang nashrani dan orang-orang murtad maupun orang-orang munafik, sebagaimana Alloh ta’âlâ berfirman:
لَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
“ (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzâb : 39)
Indikasi lain takutnya orang alim kepada Alloh ta’âlâ adalah ia berjihad di jalan Alloh, Alloh tabâroka wa ta‘âlâ berfirman:
أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(13)قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ(14)
“Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah : 13-14)
Maka jika seorang penuntut ilmu menyembunyikan kebenaran serta duduk dari jihad, baik dengan nyawa dan harta maupun lisan di saat pasukan salib yang besar sedang menyerang di negeri kaum muslimin, tidak diragukan lagi bahwa orang yang menisbatkan diri kepada ilmu ini bukan termasuk Ahlu `l-ilmi yang dipuji Alloh dalam kitab-Nya serta Ia sifati mereka dengan kesempurnaan rasa khosyyah dan takut kepada-Nya.
Di sana memang terdapat penghalang-penghalang yang menghalangi seorang penuntut ilmu dari keluar pergi ke bumi jihad. Yang paling pertama adalah cinta serta condong kepada dunia, sebagaimana Alloh Tabâroka wa Taâlâ berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ(24)
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah : 24)
Di antara penghalang seorang hamba dari berangkat berjihad adalah delapan hal yang merupakan sesuatu yang disukai, yaitu : Bapak, Anak-anak, saudara-saudara, isteri, kerabat, harta yang ia usahakan, perniagaan yang ia khawatirkan kerugiannya; termasuk di dalamnya pekerjaan yang ia khawatir akan kehilangan, tempat tinggal yang ia sukai, yang ia cintai dan ia tumbuh di sana, sehingga berat bagi jiwa untuk meninggalkan dan berjauhan darinya. Kedelapan penghalang ini, tidak ada yang mau mengabaikannya dengan kemudian berhijrah serta berjihad fî sabîlillâh selain orang yang tulus kecintaannya kepada Alloh taâlâ serta ia realisasikan tauhid, secara ilmu maupun amal. Sebab, cinta dunia dan tidak suka kematian inilah yang menggenjot semangat musuh dalam rangka mengeroyok umat dan kebaikan yang dimilikinya. Sebagaimana sabda Rasululloh Shollallôhu ‘Alaihi wa Sallam :
يُوشَكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرُ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُودَ ، وَفِي رِوَايَة ِلأَحْمَدَ : حُبُّكُمُ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَتُكُمُ الْقِتَالَ .
“Hampir-hampir kalian akan diperebutkan oleh ummat-ummat lain sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya. Ada yang bertanya, Apakah lantaran kita sedikit kala itu? beliau bersabda, Bahkan kalian banyak ketika itu, namun kalian adalah buih laksana buih air, dan Alloh benar-benar akan mencabut rasa segan kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Alloh benar-benar akan melemparkan ke dalam hati kalian Al-Wahn. Maka ada yang bertanya, Apakah Al-Wahn itu wahai Rasululloh? beliau menjawab, Cinta dunia dan benci mati. (HR. Abû Dâwud) dalam riwayat Ahmad disebutkan : Kecintaan kalian kepada dunia dan kebencian kalian kepada perang.
Jenis penghalang kedua yang merupakan kekeliruan-kekeliruan dalam mencari ilmu, di antaranya adalah : Ketika seorang penuntut ilmu menyibukkan diri dengan banyak mengumpulkan dan menghafal berbagai persoalan serta berlebihan dalam hal itu sampai-sampai memalingkan dirinya dari bersegera dalam ketaatan dan perbuatan-perbuatan yang mendekatkan diri kepada Alloh. Juga ketika ia banyak melakukan banyak sekali cabang keimanan yang itu justru menjadi penyebab melemahnya iman dia serta sakitnya hatinya. Imân Ibnu `l-Qoyyim ketika menafsirkan firman Alloh ta‘âlâ:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“At-Takâtsur telah melalaikan kalian.”
… berkata: “At-Takâtsur adalah bentuk tafâ‘ul dari Al-Katsroh, artinya : Kalian saling berbanyak-banyakan satu sama lain. Dan di sini tidak disebutkan orang yang melakukan Takâtsur dengan maksud kemutlakan dan keumumannya, dan bahwa apa saja yang dijadikan bahan berbanyak-banyakan oleh seorang hamba terhadap orang lain selain ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya atau manfaat yang kembali kepada dirinya sendiri di akhiratnya, berarti itu masuk ke dalam Takâtsur ini. Jadi, At-Takâtsur itu terjadi dalam segala hal, baik harta, kedudukan atau kepemimpinan, atau wanita atau kata-kata atau ilmu ~terlebih yang tidak ia perlukan~, Takâtsur dalam hal buku, karangan-karangan, memperbanyak permasalahan, mencabangkan serta membuat hal-hal baru dari sana. Selesai perkataan beliau rohimahullôh.
Kesalahan lain dalam hal mencari ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu menjadikan sebuah methode dan cara untuk dirinya sendiri dalam mencapai ilmu, dengan menghabiskan masa bertahun-tahun yang berkala, lantas ia tidak tertarik sedikitpun untuk keluar berjihad yang hukumnya wajib dengan dalih menyelesaikan studi. Hingga akhirnya ketika tahun-tahun itu selesai ia lewati, mulai banyak memiliki anak, penghalang semakin bertambah, semakin terasa beratlah bagi jiwa untuk keluar berjihad, lantas ia condong kepada dunia dan meninggalkan jihad.
Kesalahan lain dalam mencari ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu menjadikan tujuan satu-satunya dari studi yang dia lakukan berupa kemampuan menulis buku-buku yang sebenarnya ia tidak perlu tulis, kebenaran sudah di jelaskan di dalamnya oleh ahlu `l-ilmi yang lebih tahu daripada dirinya. Lalu ia menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya dalam rangka menulis buku-buku serta hal itu menjadikannya sibuk dari mengurusi jihad di jalan Alloh baik dengan nyawa, harta maupun lisan. Manhaj inilah yang membedakan antara salaful Ummah dari sebagian generasi terakhir. Sesungguhnya para salaf itu tidak dikenal banyak memiliki karangan-karangan serta mengkonsentrasikan diri di dalamnya dengan kemudian meninggalkan jihad yang wajib, tetapi mereka menggabung sekaligus antara dakwah, menyampaikan ilmu dan jihad di jalan Alloh serta menegakkan agama Alloh di muka bumi.
Di antara kekeliruan dalam mencari ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu tertarik untuk menuntut ilmu lantaran dalam ilmu dan amal dari ilmu tersebut terdapat kedudukan orang-orang yang shiddîq (jujur keimanannya); ini memang benar, tetapi yang keliru adalah ketika seorang thôlibul ilmi lupa bahwa derajat shiddîq itu tidak akan dicapai oleh orang yang duduk dari jihad yang hukumnya wajib, sebab duduk dari jihad itu termasuk indikasi lemahnya kejujuran, sementara dengan jihad akan terpilahlah antara orang yang jujur dan yang dusta imannya, Alloh Tabâroka wa Ta’âlâ berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ(15)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurôt : 15)
Adapun kesalahan ketiga adalah terjadi pada para murobbi: di antaranya adalah mereka meninggalkan aktifitas tahrîdh (membakar semangat) dan memotivasi para penuntut ilmu dan kaum muslimin secara umum untuk berjihad, padahal Alloh Tabâroka wa Taâlâ telah berfirman:
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا(84)
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu'min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya). (QS. An-Nisâ: 84)
Di antara kesalahan para murobbi yang lain adalah ketika seorang dai murobbi menanamkan dalam diri para penuntut ilmu bahwa mengikuti Salaful Ummah adalah cukup dengan belajar dan menghafal akidah para salaf saja tanpa menjalani manhaj mereka serta mengikuti perilaku dan jihad mereka. Mungkin saja engkau mendapati seorang lelaki yang mengaku sebagai pengikut salaf serta mengajak kepada manhaj mereka, sementara dirinya sendiri dalam hal perilaku, kecenderungannya kepada dunia dan menutupi kebenaran adalah orang yang paling mirip dengan ulama yahudi yang dimurkai.
Di antara kesalahan lain dari para murobbi adalah ketika seorang dai membuat sebuah methode dalam membela islam tanpa ada unsur kekuatan di sana. Dan ini adalah methode yang tidak keluar dari batas-batas yang diizinkan oleh para penguasa yang diperalat. Lalu ia terus bertahan di atas jalan yang jauh dari Jihad fi sabilillâh, di mana jihad adalah satu-satunya jalan dalam menghadapi musibah dan perang salib ini. Maka jalan yang ia pilih sendiri untuk dirinya yang kosong dari nilai jihad ini, ia tidak akan bergeming darinya serta keadaanpun tidak akan berubah; dari damai kepada peperangan, dari rasa aman kepada ketakutan dan perlawanan serta peperangan. Tak cukup di situ, ia kemudian menarik ummat kepada pendapat kelirunya tadi yang mana ia tidak bergeser darinya meskipun keadaan telah berubah. Ia telah mengeluarkan diri dan para pengikutnya dari peperangan dan perlawanan dengan lantas mencukupkan diri mengikuti informasi medan perang dari kejauhan, ia ridho dirinya termasuk seperti yang difirmankan Alloh taâlâ :
وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ
“...dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. (QS. Al-Ahzâb : 20)
Kekeliruan para dai dan murobbi yang lain adalah duduknya mereka dari berjihad dan lebih memilih sejalan dengan orang-orang nashrani dan orang-orang murtad dalam kata-kata dan istilah-istilah yang mereka keluarkan, seperti istilah kebebasan dan demokrasi atau yang lain. Akhirnya mereka lebih condong kepada apa yang dibawa oleh para pembawa kebatilan dan kafir berupa kata penuh hiasan, di mana orang yang tidak beriman kepada akhirat akan tertipu dan terseret di belakangnya, berbuat maksiat dan berbagai dosa disebabkan condongnya mereka kepada kata-kata tadi serta begitu perhatiannya mereka terhadap orang yang mengatakan; di mana mereka menghiasi kata-katanya dengan ungkapan-ungkapan kata yang indah serta lafadz yang penuh hiasan melalui media informasi dan satelit-satelit angkasa yang mereka miliki. Alloh taâlâ telah terangkan bahwa mereka yang menghias kata-kata untuk menipu manusia dengannya dalam rangka memalingkan mereka dari Islam, mereka adalah syetan berupa manusia dan jin yang merupakan musuh para rosul. Sebagaimana firman Alloh ta‘âlâ :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al-Anâm : 112)
Dengan demikian, bagaimana seorang thôlibul ilmu rela dirinya menipu manusia dengan taktik dan kata-kata mereka yang penuh hiasan, ikut bergabung dalam saluran dan media-media informasi mereka; bukan untuk menyuarakan kebenaran apa adanya, tetapi justru untuk mencampur adukkan yang haq dan yang bathil serta sepakat dengan mereka dalam sebagian ungkapan dan kata-kata mereka. Di antara kata-kata ini adalah istilah kebebasan yang dalam kamus orang nahsrani, sekuler dan orang-orang murtad maknanya adalah : membuang muka dari semua bentuk konsistensi terhadap agama. Artinya, menentang semua prinsip ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya shollallôhu alaihi wa sallam, serta bersikap keras kepala untuk beribadah kepada Alloh. Inilah sebenarnya bentuk kebebasan syetan manusia dari Amerika serta orang-orang yang mengikuti sistem demokrasi dan liberal mereka. Padahal sebenarnya mereka bukanlah orang-orng yang merdeka, tetapi mereka tertawan di tangan-tangan syetan jin serta menjadi bala tentara mereka yang diarahkan untuk memerangi Alloh dan rosul-Nya shollallôhu alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Alloh taâlâ :
أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا
“ Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma`siat dengan sungguh-sungguh?” (QS. Maryam : 83)
Alloh Ta’âlâ juga berfirman :
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf : 36)
Di samping itu, mereka yang bersikap keras kepala dari beribadah kepada Alloh juga terperangkap dalam peribadatan kepada hawa nafsu mereka dan ke dalam peribadatan kepada syetan serta manusia yang membuat perundangan pengatur mereka, budak dari undang-undang produk manusia dan thoghut-thoghut lainnya yang mereka berkubang dalam peribadatan kepada hal yang sama. Yang perlu dicatat, bahwa seorang hamba tidak akan bebas dari peribadatan kepada thoghut kecuali dengan mentauhidkan Alloh serta mengikhlaskan agama untuk-Nya semata. Sebab islam datang membawa ubûdiyyah (ibadah); bukan kebebasan cara barat, karena ibadah adalah tujuan utama Alloh mencipatakan para hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât: 56)
Jadi, Alloh menciptakan hamba-hamba-Nya hanya untuk beribadah kepada-Nya saja; tanpa ada sekutu bagi-Nya. Nah, jika seorang pengemban ilmu di dalam berdakwah dan bertukar pikiran dengan orang-orang munafik dan murtad berpijak dari ayat ini dengan tujuan mendapatkan keridhoan Alloh taâlâ, niscaya ia tidak akan sesat dalam perkataan, dakwah dan manhaj yang ia tempuh. Lain halnya kalau ia melalaikan tujuan utama penciptaan seluruh makhluk dengan mencoba mencari keridhoan orang-orang yang membaca dan menyaksikan ilmunya dari kalangan orang-orang nashrani, sekuler atau orang-orang munafik, maka tidak diragukan lagi ia pasti akan sesat dan memasukkan dalam din Alloh sesuatu yang bukan bagian darinya, berupa istilah-istilah orang-orang nashrani yang penuh hiasan; seperti istilah kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia maupun istilah lainnya. Maka yang wajib dilakukan oleh para ulama adalah bergabung dengan saudara-saudara mereka para mujahidin dan menolong mereka, sebagai ganti dari sikap toleransi (mudâhanah) dan manis muka serta kedekatan mereka kepada musuh-musuh Alloh dari kalangan orang-orang kafir dan munafik dengan malah mencela dan mencaci para mujahidin. Sebab pengemban ilmu itu bila bermudâhanah kepada musuh-musuh Alloh dengan menjauhi para mujahidin dan orang-orang sholeh, berarti ia telah memecah belah manusia yang berada di sekitarnya, berarti pula ia telah kehilangan jalan kekuatan dan kemuliaan (izzah) serta jihad. Dengan demikian, ia telah merugi dalam dakwahnya, melemahkan kekuatannya sekaligus menghinakan dirinya sendiri di hadapan orang-orang kafir dan para penguasa yang menjadi antek mereka. Alhasil, ia jadi terkatung-katung; ia tidak berada di barisan kaum mujahidin berjihad bersama mereka, tidak pula bersama para penguasa yang diperalat tadi yang ia sendiri sebenarnya tidak setuju dengannya dalam semua yang ia serukan. Jika seorang pencari ilmu sampai pada kondisi kalah dan lemah seperti ini, saat itu tidak menjadi persoalan lagi bagi kaum kafir dan munafik untuk menerima mereka di media-media informasi yang mereka milik setelah sebelumnya menampakkan sedikit kompromi. Padahal, Alloh ta‘âlâ berfirman :
وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا(73)وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا
“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. Al-Isrô: 75)
Alloh taâlâ juga berfirman :
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ(49)أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50(
“ Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Mâidah : 49-50)
Keteguhan seorang alim di atas kebenaran dan jihad yang ia lakukan itu sudah cukup mewakili bagi ummat ini, meskipun ia dipenjara atau jalan dakwah di hadapannya di halangi serta ditahan dirumahnya. Sebab kalimat kebenaran itu akan keluar darinya, atau paling tidak sekedar kisah dan penyucian jiwa yang akan memberikan nasehat kepada umat serta membakar semangat mereka untuk berjihad, itu cukup untuk menjadikan ummat menyambut dia dan berkumpul di sekelilingnya. Adapun, jika ia tidak teguh dan terang-terangan dalam kebenaran serta berjihad di jalan Alloh, kemudian ia bermudâhanah dengan musuh-musuh Alloh, sama artinya ia telah merugi dalam dakwah yang ia lakukan. Dalam kondisi seperti ini, tidak tak ada gunanya bagi dia banyaknya berbagai sarana dakwah dan informasi setelah ummat kehilangan kepercayaan kepada dirinya. Maka, yang menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu, juga bagi para pemuda maupun kaum lelaki yang mampu selain mereka adalah keluar berperang untuk menolong saudara-saudara mereka di bumi jihad hingga terpenuhi jumlah yang cukup dari kalangan ulama dan mujahidin. Demikian juga, wajib atas kaum muslimin berjihad di jalan Alloh taâlâ dengan harta mereka serta menolong saudara-saudara mereka. Dan mereka tidak usah menggubris tekanan dari musuh-musuh Alloh dari kelompok orang-orang Nashrani dan Yahudi serta antek-antek mereka di negeri di mana mereka berusaha menghalangi jihad dengan harta.
Kami juga memberikan wasiat kepada saudara-saudara mujahidin di Iraq agar menyatukan barisan mereka di bawah satu komando. Dan di samping mereka memiliki kekuatan militer, sebaiknya mereka juga memiliki kekuatan di bidang politik dan tekhnologi informasi untuk bisa berkomunikasi dengan kaum muslimin mengenai tujuan ini. Adapun mencukupkan diri pada sisi militer tanpa ada di sana bidang politik, itu tidak menutup kemungkinan akan berdampak kepada komando-komando sekulerisme yang murtad memanfaatkan jihad ini serta menguasai hukum di Iraq.
Kita memohon kepada Alloh tabâroka wa taâlâ agar Ia menolong para mujahidin di setiap tempat, semoga sholawat dan salam terlimpahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para shahabat seluruhnya.
29 Ramadhan 1424 H
Syaikh Abû Umar As-Saif
( Mufti Mujahidin Cechnya )
Syekh Abu Umar As-Saif
Untuk Umat Islam
Khususnya
Disampaikan pada tanggal 29 Ramadhan 1424 H
وصية الشيخ المجاهد:
أبو عمر محمد بن عبد الله السيف
رئيس محكمة التمييز العليا في الشيشان
Segala puji hanya milik Alloh robbul ‘Âlamîn, semoga sholawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga serta seluruh shahabatnya. Ammâ bad
Sesungguhnya tegak serta menangnya dîn ini adalah dengan adanya kitab pemberi petunjuk dan pedang sebagai pembela. Sebagaimana firman Alloh taâlâ:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hadîd: 25)
Dan inilah jalan yang dilalui para shahabat radhiyallôhu anhum di mana mereka berpegang teguh dengan Kitâbullôh dan Jihad fi Sabîlillâh, akhirnya mereka berhasil meraih kemenangan (kekuasaan/ tamkîn) yang sempurna di muka bumi dikarenakan keimanan mereka yang sempurna serta amal shaleh yang mereka kerjakan. Alloh ta‘âlâ berfirman :
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.” (QS. An-Nûr : 55)
Di kala generasi setelah mereka mulai berkurang dalam menegakkan apa yang Alloh wajibkan kepada mereka berupa berpegang teguh kepada Kitabullôh dan Jihad, berkurang pulalah kekuasaan mereka, sebanding dengan berkurangnya sikap berpegang teguh mereka kepada terhadap Kitabullôh dan Jihad Fî Sabîlillâh. Di antara indikasi yang melemahkan kondisi ummat serta menjadikannya cacat dari sifat Thôifah Manshûroh serta menjadikan ilmu dan jihad menjadi bagian yang terpilah adalah : Minimnya penuntut ilmu yang berangkat ke medan Jihad, padahal Rosulullôh Shollallôhu Alaihi wa Sallam bersabda,
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka akan selalu menang hingga (menjelang) hari kiamat.” (HR. Muslim Kitab Al Iman: 395)
Sehingga, hampir tidak ada panji jihad yang dikibarkan di sebuah negeri, melainkan engkau lihat di sana para mujahidin berlomba menuju bumi jihad, mereka ingin terbunuh dan mencari mati di tempat yang menjadi persangkaan mereka. Namun, engkau tidak akan melihat di antara mereka dari kalangan para penuntut ilmu yang mau menegakkan kewajiban fardhu kifâyah berupa mengajari kaum muslimin di bumi jihad serta mengarahkan mereka dan menyerukan kepada umat akan kondisi mereka. Bahkan, sebagian mereka yang menisbatkan dirinya kepada ilmu tak hentinya melakukan dosa quûd (duduk tidak berangkat berjihad, penerj.) serta tidak mau menghentikan sikap itu. Mereka justru mengendorkan semangat kaum muslimin dari berjihad, menahan mereka dari membela para mujahidin dan menyebarkan berbagai isu melemahkan serta menakut-nakuti mereka akan musuh.
Kondisi umat islam yang mulai bangkit berjihad serta kembali aktualnya kewajiban ini, merupakan sebuah kesempatan bagi para penuntut ilmu yang jujur untuk mulai berhijrah, berjihad fî sabîlillâh, mengarahkan ummat serta berusaha untuk menegakkan din Alloh di muka bumi. Alloh ta’âlâ berfirman,
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“ Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak... (QS. An-Nisâ: 100)
Di sini, Alloh memberikan dorongan untuk berhijrah di jalan-Nya dengan menerangkan bahwa seorang Muhâjir akan mendapatkan tempat yang akan menampungnya dan menjadikan musuh-musuh Alloh taâlâ marah, serta mendapatkan kelapangan dalam arti semua bentuk kelapangan. Bisa bermakna kemantaban moril dan adanya solusi; seperti kelapangan dalam hidayah, dakwah dan berjihad di Jalan Alloh serta kelapangan rezeki, kelapangan ketika menghadapi kesedihan dan kesulitan di saat berdekatan dengan musuh-musuh Alloh yang dzalim, kelapangan ketika harus tinggal di bawah kekuasaan mereka serta ketidak mampuan dalam menegakkan kalimat tauhid dan memberlakukan syariat Alloh di bawah kekuasaan mereka. Kelapangan untuk memisahkan diri dari tandingan-tandingan Alloh dan para thoghut dari kalangan mereka yang telah murtad serta dari segala undang-undang positif yang berlaku di negeri tersebut. Kelapangan dari sempitnya kelemahan, kehinaan dan kemiskinan di bawah kungkungan hukum dan kedzaliman para thoghut menuju kepada kehidupan penuh Izzah, kekuatan, jihad serta Tamkîn (kekuasaan) di muka bumi.
Selanjutnya, para ulama adalah pewaris para nabi; sebagaimana mereka adalah orang yang paling tahu akan warisan nubuwwah, sudah seharusnya mereka mengemban risalah tersebut sebagaimana para nabi dahulu juga mengembannya, berjihad dalam rangka membelanya serta sabar menanggung kepedihan yang bakal menimpa mereka ketika menyampaikan risalah tersebut. Mereka juga harus mengarahkan umat untuk berjihad melawan musuh.
Orang berilmu yang jujur memiliki beberapa karakteristik yang membedakan mereka dari ulama jahat. Yang pertama adalah ketika seorang alim mengamalkan ilmunya, kata-katanya sesuai dengan perbuatannya; sebab seorang hamba itu ~sebagaimana dikhabarkan Nabi Shollallôhu Alaihi wa Sallam~ tidak akan bergeser kedua kakinya pada hari kiamat sampai ia ditanya mengenai empat hal : Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang masa mudanya, untuk apa ia usangkan. Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan dia belanjakkan untuk apa. Dan tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya.
Surat Al-Fâtihah berisi petunjuk (hidayah) menuju ilmu sekaligus amal, di mana itulah Shirôthol Mustaqîm (jalan lurus) yang ditempuh oleh para Nabi, para shiddîqîn, syuhada dan sholihin. Bukan jalan yang ditempuh golongan yang dimurkai di mana mereka berilmu namun tidak beramal, seperti kaum yahudi serta ulama kaum muslimin yang fasik. Bukan pula jalan orang-orang sesat di mana mereka beramal tanpa dasar ilmu yang benar, seperti kaum nashrani serta ahli ibadah dari ummat ini yang sesat. Sufyân bin ‘Uyainah rohimahullôh berkata,
مَنْ فَسَدَ مِنْ عُلَمَائِنَا كَانَ فِيْهِ شِبْهٌ مِنَ الْيَهُودِ وَمَنْ فَسَدَ مِنْ عُبَّادِنَا كَانَ فِيْهِ شِبْهٌ مِنَ النَّصَارَى
“ Kalau ada yang rusak dari ulama kita, maka ia mirip dengan orang yahudi. Dan jika ada yang rusak dari ahli ibadah kita, berarti ada kemiripan dengan orang nashrani.”
Dua sifat ini Alloh kumpulkan di dalam kitab-Nya pada firman Alloh ta‘âlâ :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. (At-taubah : 34)
Jadi, hidayah itu bisa diraih dengan ilmu sekaligus amal serta menyambut nasehat, sebagaimana firman Alloh Tabâroka wa taâlâ:
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا(66) وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا(67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا(68) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا(69)
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisâ : 66-69)
Maka siapa di antara mereka yang merasa telah tergabung dalam dunia ilmu merasa diri menjadi salah satu pengikut Salaful Ummah sementara ia menyembunyikan kebenaran serta duduk dari berjihad dan menghalangi dari jalan Alloh hanya lantaran kehidupan dunia, berarti ia dusta dalam pengakuannya tersebut, bahkan ialah orang yang paling mirip dengan ulama yahudi; kaum yang termurkai, di mana Alloh taâlâ berfirman tentang mereka :
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ(41)وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (42)وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ(43)أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ(44)
“…dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al-Baqoroh : 41-44)
Di dalam Shohîhain, Rasululloh Shollallôhu Alaihi wa Sallam bersabda :
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ اقْتَابَ بَطْنُهُ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلاَنُ مَا لَكَ ؟ أَلَمْ تَكُ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ؟ فَيَقُولُ : بَلَى ، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيْهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيْهِ
“Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat, ia dilemparkan ke dalam neraka, lantas terburailah usus perutnya, lalu ia berputar-putar di sana persis seperti keledai yang berputar pada alat penggilingan. Para penduduk nerakapun berkumpul mendekati dia, mereka bertanya, Hai fulan, ada apa dengan dirimu? Bukankah dulu engkau memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah yang munkar? ia menjawab, Benar, aku dulu memerintahkan yang makruf tapi aku tidak mengerjakannya dan aku melarang yang mungkar sementara aku justru mengerjakannya.
Alloh taâlâ menyamakan orang yang mengemban ilmu namun tidak mengamalkannya serta orang yang mengerti ayat-ayat Alloh namun ia justru berlepas diri darinya mirip dengan keledai yang membawa kitab-kitab namun ia tidak bisa mengambil manfaat darinya, juga dengan anjing yang ia selalu menjulurkan lidahnya kepada dunia dan kepada kesesatan yang ia hidup di dalamnya pada semua keadaan, tak ada bedanya; apakah ia diberi nasehat dengan ayat-ayat yang engkau ajarkan kepadanya, atau dengan yang lain, atau tidak diberi nasehat. Ia telah condong dan miring ke bumi secara keseluruhan, ia telah menjadi pengikut syetan dan hawa nafsu yang menjadi titian dan jalan yang ia tempuh. Alloh ta‘âlâ berfirman :
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jumu‘ah: 5)
Alloh Tbâroka wa T’âlâ juga berfirman :
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ(175)وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ(176)
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-Arôf : 175-176)
Al-Qurtuby rahimahullôh taâlâ ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan, bahwa permisalan ini bersifat umum bagi siapapun yang diberi Al-Quran namun ia tidak mengamalkannya.
Adapun sifat kedua dari penuntut ilmu adalah menjelaskan ilmu kepada manusia serta berterus terang menyuarakan kebenaran. Alloh taâlâ berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dila`nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. (QS. Al-Baqoroh : 159)
Maka siapa di antara mereka yang menisbatkan diri kepada ilmu yang menyembunyikannya, ia bukanlah ulama yang dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan di dalam air. Tidak pula termasuk dalam nash-nash syari yang memuji para ulama serta menyebutkan pahala mereka. Tapi ia justru termasuk orang-orang yang dilaknat Alloh dan semua makhluk yang bisa melaknat.
Yang menjadikan para penuntut ilmu itu menyembunyikan kebenaran tak lain adalah rasa takut dia kepada para penguasa, siksaan serta media informasi yang mereka miliki. Sebab lain adalah karena ia mencari keridhoan serta kedudukan di sisi para penguasa tersebut, juga ambisi dia untuk mendapatkan dunia beserta perhiasannya. Alloh Tabâroka wa Taâlâ berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُون َ
“ Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Âli Imrôn : 187)
Alloh taâlâ juga berfirman :
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“ Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (QS. Al-Arôf: 169)
Mereka mempelajari ilmu dari para ulama atau di madrasah-madrasah atau di tempat lain, sebagaimana firman Alloh ta’âlâ :
وَدَرَسُوا مَا فِيهِ
(… dan mereka mempelajari apa yang ada di dalamnya …)
Sayangnya, mereka mempelajari ilmu itu sebatas belajar saja. Tidak ada tidak disertai adanya keyakinan yang menancap ataupun iman yang kokoh; mereka tidak menerima ilmu itu seperti halnya para shahabat radhiyallôhu anhum menerimanya di mana merekalah yang telah memikul ilmu serta bersabar dalam menyampaikannya dan berjihad melawan musuh-musuhnya. Imâm Ibnul Qoyyim rahimahullôh berkata, Siapa saja dari ahlul ilmi yang memprioritaskan serta lebih menyukai dunia, pasti akan mengatakan kepada Alloh tanpa dasar kebenaran ketika ia berfatwa, di dalam memberikan hukum dan keputusan dari berita yang ia terima. Sebab hukum Alloh Subhânahû wa Taâlâ banyak sekali yang datang tidak bersesuaian dengan keinginan-keinginan manusia, terutama para pemimpin serta mereka yang memperturutkan syahwat. Mereka ini tidak akan bisa mencapai keinginannya dengan sempurna melainkan dengan menyelisihi kebenaran serta menolak sebagian besarnya. Maka, jika seorang alim dan penguasa mencintai kepemimpinan serta memperturutkan syahwatnya, tentu itu tidak akan dicapai dengan sempurna melainkan dengan menolak hal yang menjadi kebalikannya berupa kebenaran. Lebih lebih ketika ada sesuatu yang masih syubhat, lantas syubhat itu berbenturan dengan syahwatnya atau menyerang hawanafsunya, ia pasti akan menyembunyikan kebenaran serta akan lenyaplah sisi kebenaran itu. Jika kebenaran itu sudah jelas dan tidak lagi tersembunyi dan samar, ia akan memberanikan diri untuk menyelisihinya seraya mengatakan, Masih ada jalan keluar untuk bertaubat bagiku.
Mengenai orang seperti mereka serta yang semisal, Alloh taâlâ berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya.. ” (QS. Maryam : 59)
Alloh ta‘âlâ juga berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurot, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata:"Kami akan diberi ampun". Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya. Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertaqwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti. (Al Arof: 169)
Di sini, Alloh subhânahû taâlâ memberitahukan bahwa mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini padahal mereka tahu keharamannya sembari mengatakan, Kami akan diampuni. Jika disodorkan kepada mereka harta benda dunia yang lain, mereka akan kembali mengambilnya. Jadi, mereka terus menerus melakukan hal itu. Selesai perkataan beliau.
Makanya, ilmu bukan hanya dalam menghafal matan-matan serta dengan studi berbagai disiplin ilmu, tetapi inti permasalahan supaya ilmu tersebut bermanfaat adalah kesucian serta ketakwaan dari wadah yang dijadikan tempat untuk menerima ilmu (yaitu hati, penerj.). Jika hati itu suci, ilmu akan bermanfaat dengan izin Alloh, kaum musliminpun akan mengambil manfaat dari ilmu ini. Lain halnya ketika hati yang meneriman ilmu itu adalah hati munafik, atau hati yang sedang sakit, maka pemiliknya pasti akan menyembunyikan kebenaran serta membuat-buat kedustaan atas nama Alloh dan memalingkan dari jalan-Nya. Ia akan menjadikan fatwa dan perkataannya sebagai tutup syari bagi pemerintah yang berfungsi untuk membenarkan kejahatannya terhadap hak islam dan kaum muslimin.
Adapun sifat ketiga seorang penuntut ilmu adalah takwa dan takut kepada Alloh ta’âlâ. Alloh tabâroka wa ta‘âlâ berfirman:
أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”. (Az-Zumar : 9) Alloh Ta’âlâ juga berfirman :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama...” (QS. Az-Zumar : 28)
Di antara indikasi seorang alim benar-benar takut kepada Alloh ta’âlâ adalah ia berterus terang dalam menyampaikan kebenaran serta menerangkan ilmu kepada manusia dan memberikan nasehat kepada umat, ia tidak takut celaan orang-orang yang mencela dari kalangan orang nashrani dan orang-orang murtad maupun orang-orang munafik, sebagaimana Alloh ta’âlâ berfirman:
لَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ
“ (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzâb : 39)
Indikasi lain takutnya orang alim kepada Alloh ta’âlâ adalah ia berjihad di jalan Alloh, Alloh tabâroka wa ta‘âlâ berfirman:
أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ(13)قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ(14)
“Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah : 13-14)
Maka jika seorang penuntut ilmu menyembunyikan kebenaran serta duduk dari jihad, baik dengan nyawa dan harta maupun lisan di saat pasukan salib yang besar sedang menyerang di negeri kaum muslimin, tidak diragukan lagi bahwa orang yang menisbatkan diri kepada ilmu ini bukan termasuk Ahlu `l-ilmi yang dipuji Alloh dalam kitab-Nya serta Ia sifati mereka dengan kesempurnaan rasa khosyyah dan takut kepada-Nya.
Di sana memang terdapat penghalang-penghalang yang menghalangi seorang penuntut ilmu dari keluar pergi ke bumi jihad. Yang paling pertama adalah cinta serta condong kepada dunia, sebagaimana Alloh Tabâroka wa Taâlâ berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ(24)
“Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. At-Taubah : 24)
Di antara penghalang seorang hamba dari berangkat berjihad adalah delapan hal yang merupakan sesuatu yang disukai, yaitu : Bapak, Anak-anak, saudara-saudara, isteri, kerabat, harta yang ia usahakan, perniagaan yang ia khawatirkan kerugiannya; termasuk di dalamnya pekerjaan yang ia khawatir akan kehilangan, tempat tinggal yang ia sukai, yang ia cintai dan ia tumbuh di sana, sehingga berat bagi jiwa untuk meninggalkan dan berjauhan darinya. Kedelapan penghalang ini, tidak ada yang mau mengabaikannya dengan kemudian berhijrah serta berjihad fî sabîlillâh selain orang yang tulus kecintaannya kepada Alloh taâlâ serta ia realisasikan tauhid, secara ilmu maupun amal. Sebab, cinta dunia dan tidak suka kematian inilah yang menggenjot semangat musuh dalam rangka mengeroyok umat dan kebaikan yang dimilikinya. Sebagaimana sabda Rasululloh Shollallôhu ‘Alaihi wa Sallam :
يُوشَكُ اْلأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرُ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُودَ ، وَفِي رِوَايَة ِلأَحْمَدَ : حُبُّكُمُ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَتُكُمُ الْقِتَالَ .
“Hampir-hampir kalian akan diperebutkan oleh ummat-ummat lain sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampannya. Ada yang bertanya, Apakah lantaran kita sedikit kala itu? beliau bersabda, Bahkan kalian banyak ketika itu, namun kalian adalah buih laksana buih air, dan Alloh benar-benar akan mencabut rasa segan kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Alloh benar-benar akan melemparkan ke dalam hati kalian Al-Wahn. Maka ada yang bertanya, Apakah Al-Wahn itu wahai Rasululloh? beliau menjawab, Cinta dunia dan benci mati. (HR. Abû Dâwud) dalam riwayat Ahmad disebutkan : Kecintaan kalian kepada dunia dan kebencian kalian kepada perang.
Jenis penghalang kedua yang merupakan kekeliruan-kekeliruan dalam mencari ilmu, di antaranya adalah : Ketika seorang penuntut ilmu menyibukkan diri dengan banyak mengumpulkan dan menghafal berbagai persoalan serta berlebihan dalam hal itu sampai-sampai memalingkan dirinya dari bersegera dalam ketaatan dan perbuatan-perbuatan yang mendekatkan diri kepada Alloh. Juga ketika ia banyak melakukan banyak sekali cabang keimanan yang itu justru menjadi penyebab melemahnya iman dia serta sakitnya hatinya. Imân Ibnu `l-Qoyyim ketika menafsirkan firman Alloh ta‘âlâ:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
“At-Takâtsur telah melalaikan kalian.”
… berkata: “At-Takâtsur adalah bentuk tafâ‘ul dari Al-Katsroh, artinya : Kalian saling berbanyak-banyakan satu sama lain. Dan di sini tidak disebutkan orang yang melakukan Takâtsur dengan maksud kemutlakan dan keumumannya, dan bahwa apa saja yang dijadikan bahan berbanyak-banyakan oleh seorang hamba terhadap orang lain selain ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya atau manfaat yang kembali kepada dirinya sendiri di akhiratnya, berarti itu masuk ke dalam Takâtsur ini. Jadi, At-Takâtsur itu terjadi dalam segala hal, baik harta, kedudukan atau kepemimpinan, atau wanita atau kata-kata atau ilmu ~terlebih yang tidak ia perlukan~, Takâtsur dalam hal buku, karangan-karangan, memperbanyak permasalahan, mencabangkan serta membuat hal-hal baru dari sana. Selesai perkataan beliau rohimahullôh.
Kesalahan lain dalam hal mencari ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu menjadikan sebuah methode dan cara untuk dirinya sendiri dalam mencapai ilmu, dengan menghabiskan masa bertahun-tahun yang berkala, lantas ia tidak tertarik sedikitpun untuk keluar berjihad yang hukumnya wajib dengan dalih menyelesaikan studi. Hingga akhirnya ketika tahun-tahun itu selesai ia lewati, mulai banyak memiliki anak, penghalang semakin bertambah, semakin terasa beratlah bagi jiwa untuk keluar berjihad, lantas ia condong kepada dunia dan meninggalkan jihad.
Kesalahan lain dalam mencari ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu menjadikan tujuan satu-satunya dari studi yang dia lakukan berupa kemampuan menulis buku-buku yang sebenarnya ia tidak perlu tulis, kebenaran sudah di jelaskan di dalamnya oleh ahlu `l-ilmi yang lebih tahu daripada dirinya. Lalu ia menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya dalam rangka menulis buku-buku serta hal itu menjadikannya sibuk dari mengurusi jihad di jalan Alloh baik dengan nyawa, harta maupun lisan. Manhaj inilah yang membedakan antara salaful Ummah dari sebagian generasi terakhir. Sesungguhnya para salaf itu tidak dikenal banyak memiliki karangan-karangan serta mengkonsentrasikan diri di dalamnya dengan kemudian meninggalkan jihad yang wajib, tetapi mereka menggabung sekaligus antara dakwah, menyampaikan ilmu dan jihad di jalan Alloh serta menegakkan agama Alloh di muka bumi.
Di antara kekeliruan dalam mencari ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu tertarik untuk menuntut ilmu lantaran dalam ilmu dan amal dari ilmu tersebut terdapat kedudukan orang-orang yang shiddîq (jujur keimanannya); ini memang benar, tetapi yang keliru adalah ketika seorang thôlibul ilmi lupa bahwa derajat shiddîq itu tidak akan dicapai oleh orang yang duduk dari jihad yang hukumnya wajib, sebab duduk dari jihad itu termasuk indikasi lemahnya kejujuran, sementara dengan jihad akan terpilahlah antara orang yang jujur dan yang dusta imannya, Alloh Tabâroka wa Ta’âlâ berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ(15)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurôt : 15)
Adapun kesalahan ketiga adalah terjadi pada para murobbi: di antaranya adalah mereka meninggalkan aktifitas tahrîdh (membakar semangat) dan memotivasi para penuntut ilmu dan kaum muslimin secara umum untuk berjihad, padahal Alloh Tabâroka wa Taâlâ telah berfirman:
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا(84)
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu'min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya). (QS. An-Nisâ: 84)
Di antara kesalahan para murobbi yang lain adalah ketika seorang dai murobbi menanamkan dalam diri para penuntut ilmu bahwa mengikuti Salaful Ummah adalah cukup dengan belajar dan menghafal akidah para salaf saja tanpa menjalani manhaj mereka serta mengikuti perilaku dan jihad mereka. Mungkin saja engkau mendapati seorang lelaki yang mengaku sebagai pengikut salaf serta mengajak kepada manhaj mereka, sementara dirinya sendiri dalam hal perilaku, kecenderungannya kepada dunia dan menutupi kebenaran adalah orang yang paling mirip dengan ulama yahudi yang dimurkai.
Di antara kesalahan lain dari para murobbi adalah ketika seorang dai membuat sebuah methode dalam membela islam tanpa ada unsur kekuatan di sana. Dan ini adalah methode yang tidak keluar dari batas-batas yang diizinkan oleh para penguasa yang diperalat. Lalu ia terus bertahan di atas jalan yang jauh dari Jihad fi sabilillâh, di mana jihad adalah satu-satunya jalan dalam menghadapi musibah dan perang salib ini. Maka jalan yang ia pilih sendiri untuk dirinya yang kosong dari nilai jihad ini, ia tidak akan bergeming darinya serta keadaanpun tidak akan berubah; dari damai kepada peperangan, dari rasa aman kepada ketakutan dan perlawanan serta peperangan. Tak cukup di situ, ia kemudian menarik ummat kepada pendapat kelirunya tadi yang mana ia tidak bergeser darinya meskipun keadaan telah berubah. Ia telah mengeluarkan diri dan para pengikutnya dari peperangan dan perlawanan dengan lantas mencukupkan diri mengikuti informasi medan perang dari kejauhan, ia ridho dirinya termasuk seperti yang difirmankan Alloh taâlâ :
وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ
“...dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. (QS. Al-Ahzâb : 20)
Kekeliruan para dai dan murobbi yang lain adalah duduknya mereka dari berjihad dan lebih memilih sejalan dengan orang-orang nashrani dan orang-orang murtad dalam kata-kata dan istilah-istilah yang mereka keluarkan, seperti istilah kebebasan dan demokrasi atau yang lain. Akhirnya mereka lebih condong kepada apa yang dibawa oleh para pembawa kebatilan dan kafir berupa kata penuh hiasan, di mana orang yang tidak beriman kepada akhirat akan tertipu dan terseret di belakangnya, berbuat maksiat dan berbagai dosa disebabkan condongnya mereka kepada kata-kata tadi serta begitu perhatiannya mereka terhadap orang yang mengatakan; di mana mereka menghiasi kata-katanya dengan ungkapan-ungkapan kata yang indah serta lafadz yang penuh hiasan melalui media informasi dan satelit-satelit angkasa yang mereka miliki. Alloh taâlâ telah terangkan bahwa mereka yang menghias kata-kata untuk menipu manusia dengannya dalam rangka memalingkan mereka dari Islam, mereka adalah syetan berupa manusia dan jin yang merupakan musuh para rosul. Sebagaimana firman Alloh ta‘âlâ :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al-Anâm : 112)
Dengan demikian, bagaimana seorang thôlibul ilmu rela dirinya menipu manusia dengan taktik dan kata-kata mereka yang penuh hiasan, ikut bergabung dalam saluran dan media-media informasi mereka; bukan untuk menyuarakan kebenaran apa adanya, tetapi justru untuk mencampur adukkan yang haq dan yang bathil serta sepakat dengan mereka dalam sebagian ungkapan dan kata-kata mereka. Di antara kata-kata ini adalah istilah kebebasan yang dalam kamus orang nahsrani, sekuler dan orang-orang murtad maknanya adalah : membuang muka dari semua bentuk konsistensi terhadap agama. Artinya, menentang semua prinsip ketaatan kepada Alloh dan rosul-Nya shollallôhu alaihi wa sallam, serta bersikap keras kepala untuk beribadah kepada Alloh. Inilah sebenarnya bentuk kebebasan syetan manusia dari Amerika serta orang-orang yang mengikuti sistem demokrasi dan liberal mereka. Padahal sebenarnya mereka bukanlah orang-orng yang merdeka, tetapi mereka tertawan di tangan-tangan syetan jin serta menjadi bala tentara mereka yang diarahkan untuk memerangi Alloh dan rosul-Nya shollallôhu alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Alloh taâlâ :
أَلَمْ تَرَ أَنَّا أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا
“ Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma`siat dengan sungguh-sungguh?” (QS. Maryam : 83)
Alloh Ta’âlâ juga berfirman :
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf : 36)
Di samping itu, mereka yang bersikap keras kepala dari beribadah kepada Alloh juga terperangkap dalam peribadatan kepada hawa nafsu mereka dan ke dalam peribadatan kepada syetan serta manusia yang membuat perundangan pengatur mereka, budak dari undang-undang produk manusia dan thoghut-thoghut lainnya yang mereka berkubang dalam peribadatan kepada hal yang sama. Yang perlu dicatat, bahwa seorang hamba tidak akan bebas dari peribadatan kepada thoghut kecuali dengan mentauhidkan Alloh serta mengikhlaskan agama untuk-Nya semata. Sebab islam datang membawa ubûdiyyah (ibadah); bukan kebebasan cara barat, karena ibadah adalah tujuan utama Alloh mencipatakan para hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât: 56)
Jadi, Alloh menciptakan hamba-hamba-Nya hanya untuk beribadah kepada-Nya saja; tanpa ada sekutu bagi-Nya. Nah, jika seorang pengemban ilmu di dalam berdakwah dan bertukar pikiran dengan orang-orang munafik dan murtad berpijak dari ayat ini dengan tujuan mendapatkan keridhoan Alloh taâlâ, niscaya ia tidak akan sesat dalam perkataan, dakwah dan manhaj yang ia tempuh. Lain halnya kalau ia melalaikan tujuan utama penciptaan seluruh makhluk dengan mencoba mencari keridhoan orang-orang yang membaca dan menyaksikan ilmunya dari kalangan orang-orang nashrani, sekuler atau orang-orang munafik, maka tidak diragukan lagi ia pasti akan sesat dan memasukkan dalam din Alloh sesuatu yang bukan bagian darinya, berupa istilah-istilah orang-orang nashrani yang penuh hiasan; seperti istilah kebebasan, demokrasi dan hak asasi manusia maupun istilah lainnya. Maka yang wajib dilakukan oleh para ulama adalah bergabung dengan saudara-saudara mereka para mujahidin dan menolong mereka, sebagai ganti dari sikap toleransi (mudâhanah) dan manis muka serta kedekatan mereka kepada musuh-musuh Alloh dari kalangan orang-orang kafir dan munafik dengan malah mencela dan mencaci para mujahidin. Sebab pengemban ilmu itu bila bermudâhanah kepada musuh-musuh Alloh dengan menjauhi para mujahidin dan orang-orang sholeh, berarti ia telah memecah belah manusia yang berada di sekitarnya, berarti pula ia telah kehilangan jalan kekuatan dan kemuliaan (izzah) serta jihad. Dengan demikian, ia telah merugi dalam dakwahnya, melemahkan kekuatannya sekaligus menghinakan dirinya sendiri di hadapan orang-orang kafir dan para penguasa yang menjadi antek mereka. Alhasil, ia jadi terkatung-katung; ia tidak berada di barisan kaum mujahidin berjihad bersama mereka, tidak pula bersama para penguasa yang diperalat tadi yang ia sendiri sebenarnya tidak setuju dengannya dalam semua yang ia serukan. Jika seorang pencari ilmu sampai pada kondisi kalah dan lemah seperti ini, saat itu tidak menjadi persoalan lagi bagi kaum kafir dan munafik untuk menerima mereka di media-media informasi yang mereka milik setelah sebelumnya menampakkan sedikit kompromi. Padahal, Alloh ta‘âlâ berfirman :
وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا(73)وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا
“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. Al-Isrô: 75)
Alloh taâlâ juga berfirman :
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ(49)أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50(
“ Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Mâidah : 49-50)
Keteguhan seorang alim di atas kebenaran dan jihad yang ia lakukan itu sudah cukup mewakili bagi ummat ini, meskipun ia dipenjara atau jalan dakwah di hadapannya di halangi serta ditahan dirumahnya. Sebab kalimat kebenaran itu akan keluar darinya, atau paling tidak sekedar kisah dan penyucian jiwa yang akan memberikan nasehat kepada umat serta membakar semangat mereka untuk berjihad, itu cukup untuk menjadikan ummat menyambut dia dan berkumpul di sekelilingnya. Adapun, jika ia tidak teguh dan terang-terangan dalam kebenaran serta berjihad di jalan Alloh, kemudian ia bermudâhanah dengan musuh-musuh Alloh, sama artinya ia telah merugi dalam dakwah yang ia lakukan. Dalam kondisi seperti ini, tidak tak ada gunanya bagi dia banyaknya berbagai sarana dakwah dan informasi setelah ummat kehilangan kepercayaan kepada dirinya. Maka, yang menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu, juga bagi para pemuda maupun kaum lelaki yang mampu selain mereka adalah keluar berperang untuk menolong saudara-saudara mereka di bumi jihad hingga terpenuhi jumlah yang cukup dari kalangan ulama dan mujahidin. Demikian juga, wajib atas kaum muslimin berjihad di jalan Alloh taâlâ dengan harta mereka serta menolong saudara-saudara mereka. Dan mereka tidak usah menggubris tekanan dari musuh-musuh Alloh dari kelompok orang-orang Nashrani dan Yahudi serta antek-antek mereka di negeri di mana mereka berusaha menghalangi jihad dengan harta.
Kami juga memberikan wasiat kepada saudara-saudara mujahidin di Iraq agar menyatukan barisan mereka di bawah satu komando. Dan di samping mereka memiliki kekuatan militer, sebaiknya mereka juga memiliki kekuatan di bidang politik dan tekhnologi informasi untuk bisa berkomunikasi dengan kaum muslimin mengenai tujuan ini. Adapun mencukupkan diri pada sisi militer tanpa ada di sana bidang politik, itu tidak menutup kemungkinan akan berdampak kepada komando-komando sekulerisme yang murtad memanfaatkan jihad ini serta menguasai hukum di Iraq.
Kita memohon kepada Alloh tabâroka wa taâlâ agar Ia menolong para mujahidin di setiap tempat, semoga sholawat dan salam terlimpahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para shahabat seluruhnya.
29 Ramadhan 1424 H
Syaikh Abû Umar As-Saif
( Mufti Mujahidin Cechnya )
Katakan Tidak Kepada Kedzaliman
Ini adalah Wasiyat DR. Umar Abdurrahman semoga Alloh membebaskan beliau yang pertama kali diedarkan, yang ditulis bertepatan dengan perayaan diangkatnya kembali Husni Mubarok menjadi presiden Mesir yang ketiga kalinya.
KATAKAN KEPADA KEDZOLIMAN:
TIDAK !
Wasiyat DR. Umar Abdurrahman
Kepada Umat Islam Mesir dan Umat Islam Seluruh Dunia
Permulaan bulan Syawwal 1413 H Maret 1993 M.
بسم الله الرحمن الرحيم
KATAKAN KEPADA KEDZOLIMAN:
TIDAK !
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ : حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ .. فَقَتَلَهُ "
“ Penghulu syuhada adalah Hamzah bin ‘Abdul Muttholib, dan lelaki yang berdiri di depan pemimpin yang jahat, lalu ia memerintahnya dan melarangnya .. kemudian ia dibunuhnya .
Wahai orang-orang Islam Mesir yang perwira! Aku merasa bahwa ajalku telah dekat, dan sebentar lagi aku akan bertemu dengan Allah, maka aku harus membuat wasiyat. Karena itu maka aku persembahkan wasiyat ini :
Kepada kalian wahai orang-orang yang paling aku cintai
Kepada kalian wahai keluargaku dan kerabatku..
Kepada kalian wasiyat aku tulis dari relung hatiku yang paling dalam karena berharap (dapat melihat) wajah Robku ..
Kepada kalian wasiyat ini kutulis dengan bercampur air mataku, dan aku berharap bila wasiyat ini tertulis dengan darahku :
KATAKAN KEPADA KEDZOLIMAN .. TIDAK ! .
Katakanlah wahai ulama Mesir .. Tidak !
Tidak .. karena syariat kita telah hilang tujuh puluh tahun lamanya
Tidak .. kepada setiap orang yang mengatakan bahwa syariat Isam itu telah berlaku di Mesir
Dimanakah syariat di dalam undang-undang sekuler ?
Dimanakah syariat dalam perekonomian dengan system riba ?
Dimanakan syariat di media massa yang diumbar ?
Dimanakah syariat perdamaian, peperangan, pendidikan dan hukum ?
Jika tidak ada syariat tidak berlaku bagi kalian dalam semua hal ini . Maka kalian bukanlah pemimpin kami.. dan sekali-kali kami tidak akan mendengar dan taat kepada kalian.
KATAKAN WAHAI PEMIMPIN MESIR YANG MULIA.. TIDAK !
Tidak .. untuk kediktatoran satu orang, satu partai dan satu pendapat...
Tidak .. untuk mengekor secara hina kepada undang-undang negara yang congkak. Dan kini telah tiba saatnya menjalankan syariat Ilahiyah Robbaniyah
Tidak .. untuk selama dua belas tahun tunduk pada undang-undang teroris..
Tidak .. untuk pengadilan militer yang batil dan penangkapan secara serampangan yang lalim ..
Tidak .. untuk pelecehan hak-hak kaum muslimin dan seluruh yang disaksikan oleh semua yayasan yang telah ditunjuk pada setiap waktu ..
KATAKAN WAHAI HAKIM MESIR .. TIDAK !
Tidak .. kita tidak mau menjadi hakim yang membawa masuk neraka, akan tetapi hakim yang membawa masuk ke dalam Jannah dengan izin Allah.
Tidak .. kami tidak akan menghukum para pemuda Mesir yang baik kecuali dengan keadilan yang telah diturunkan oleh Allah .. Apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil (QS. 4:58) . Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah (QS. 5:49).
Bukan termasuk golongan kami orang yang mendzolimi para pemuda, bukan termasuk golongan kami orang yang menjatuhkan hukuman mati kepada mereka bukan golongan kami orang yang menjilat penguasa mereka dengan kemurkaan tuan dan pelindung mereka (Alloh).
KATAKANLAH WAHAI SEBAIK-BAIK TENTARA DI MUKA BUMI TIDAK !
Tidak .. kita tidak akan berperang kecuali di jalan Allah Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah .. .. (QS. 4:76).
Tidak .. kita tidak akan berperang di jalan Amerika dan antek-anteknya .. dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut .. . (QS. 4:76).
Tidak .. cukup bagi kita hancurnya Irak.
Tidak .. cukup bagi kita diabaikannya kaum muslimin di Bosnia.
Tidak .. kita tidak akan mempercayai pernyataan Amerika bahwa Iran dan Sudan telah melindungi Teroris.
Tidak .. kita tidak akan mau diperalat oleh Robin yang telah menebar kebohongan, bahwasanya marabahaya yang sebenarnya itu datang dari para fundamentalis. Maka dimanakah penjajah-penjajah Yahudi kalau begitu ? dimanakah penjahat-penjaha Serbia kalau begitu ? apakah mereka yang disebut menjaga perdamaian ? atau mereka itu para pembawa kasih sayang ? !!!
KATAKAN WAHAI PENDUDUK MESIR YANG PERWIRA .. TIDAK !
Tidak .. kami bukanlah penduduk mayoritas yang bisu.. akan tetapi kami adalah penduduk yang melakukan kudeta dengan izin Allah, kami adalah penduduk yang melakukan kudeta di Idku dan Abu Hamad dan Qolyub, kudeta di Kairo, As-yud dan Aswan. Maka janganlah berpura-pura menangis atas kefakiran dan kelaparan yang menimpa kami wahai para penguasa .. dan tunjukkanlah jaminan harta kalian .. dan katakanlah jikalau kalian memang orang yang mulia yang bersih tangan, dari mana kalian miliki ratusan juta dolar ? !!!
Katakanlah .. kami tidak berserikat dalam memerangi ahli tauhid, maka berapa banyak kami saksikan dengan mata kepala kami bahwa kalian membantai orang-orang yang sedang sholat di rumah-rumah Allah (masjid) ?!!!
Kami tidak akan mengantarkan jenazah para pembantai kaum muslimin, akan tetapi kami akan menghantar jenazah para pemuda yang mati dalam keadaan berwudlu yang hidupnya diakhiri dengan sholat dan shoum, dan akhir perkataannya adalah Laailaaha Illallah .
Tidak .. kami tidak akan diam membisu setelah hari ini, karena telah berlalu kebisuan kuburan .
KATAKANLAH WAHAI MUJAHID MESIR .. TIDAK !
Janganlah kalian melemah lantaran musibah yang menimpamu di jalan Allah, dan janganlah kalian merasa loyo dan dan janganlah kalian mau tunduk Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderita kesakitan, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan .. . (QS. 4:104) “. Balaslah mereka seperti yang mereka lakukan terhadap kalian, maka jika mereka melampaui batas terhadap kalian setelah itu maka ketahuilah bahwasanya Allah penolong kalian
ذَلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ الله
“ Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya ….. “. (QS. 22:60).
Goncanglah keputusan-keputusan para hakim, dengan seraya membacakan ayat:
فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“….. maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja “. (QS. 20:72).
Hancurkanlah para algojo di ruang-ruang penyiksaan dengan senantiasa mengatakan Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa orang lain di dunia .
Optimislah kalian bahwa ancaman-ancaman Firaun ini demi Alloh merupakan akhir tanda-tanda keputus asaan dan awal dari datangnya pertolongan dari Allah. Tetap teguhlah kalian keputusan-keputusan hukum yang biadab, karena sesungguhnya darah para syuhada yang bersabar itulah yang menuliskan kemenangan untuk ummat ini.
DAN INILAH AKU KATAKAN BERSAMA KALIAN .. TIDAK !
Tidak .. Aku katakan tidak kepadamu wahai Mubarok, begitu pula kepada pemerintahanmu, tentara-tentaramu, tiang-tiang gantunganmu, besi-besimu dan nerakamu .. tidak ada kejayaan sesaat pun bagi negaramu yang diktator, hanyasanya kejayaan itu untuk negara Islam sampai hari kiamat.
Ingatlah ! wahai musuh-musuhku buatlah makar untukku atau kalian tidak mau membuat makar untukku. Karena jikalau aku diusir maka hijrah adalah jalan yang ditempuh oleh nabi sang kekasih, jikalau aku dipenjara maka sesungguhnya nabi Yusuf yang mulia pun dipenjarakan, dan jikalau aku disembelih maka sungguh Yahya As Syayyid Al Jusur juga disembelih.
Ini adalah akidahku dan risalahku, jikalau aku khiyanati sungguh rugilah perniagaanku, padahal atas karunia Alloh aku telah memilih melaksanakan amanah ini sejak dari dahulu. Maka tentukanlah pilihan untuk diri kalian dari mulai sekarang karena sekaranglah waktu penentuan pilihan itu.
Demi Allah wahai Mesir .. sungguh aku sangat senang darahku mengalir dengan deras tumpah karena Allah di atas tanahmu, dan aku senang bila yang mensholatiku nanti orang-orang yang paling suci dari anak-anak bangsamu, dan yang memikulku ke kuburan adalah sebaik-baik lelakimu, maka pada saat itu aku berjalan menuju Allah yang Maha Mulia dengan tenang dan kalian wahai para mujahidin berjalanlah menyusuri jalan yang paling suci.
Ingatlah ! Bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan berjihadlah kalian karena Allah dengan sebenar-benar jihad. Dan akhirnya dengan izin Allah kita akan bertemu.. kita akan bertemu di atas kekuasaan negara Islam atau kita akan kembali bersama-sama menuju pintu-pintu DARUS SALAM Jannah .
Semoga Allah menerima semua amalku dan amal kalian.
Wassalaamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
Aku mengharap selalu doa dari kalian
Saudaramu
( Umar Abdurrahman )
Permulaan bulan Syawwal 1413 H Maret 1993 M.
Langganan:
Komentar (Atom)
Wasiat Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy
As Syahid (Biidznillah Insya Allah) : Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy ( Salah Seorang Pelaku Peledakan Mubarok 11 September 2001 ...